Perbedaan Budaya Riset S3 di Eropa Barat dan Asia Timur: Insight dari Deall Career Mentoring Festival

Apa perbedaan budaya riset S3 di Eropa Barat dan Asia Timur?

Apakah saat ini Anda memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah S3 di luar negeri? Negara manakah yang akan Anda tuju? Dan yang lebih penting, apakah Anda tahu bagaimana budaya atau kultur riset S3 yang ada di negara tujuan Anda? Pertanyaan – pertanyaan ini yang akan saya coba bahas dalam tulisan saya kali ini, khususnya dalam membandingkan perbedaan budaya riset S3 di Eropa Barat dan Asia Timur.

Bagi kita yang umumnya berprofesi sebagai dosen, tentu saja kita memiliki kewajiban untuk terus – menerus mengembangkan keilmuan kita. Salah satu caranya adalah dengan melanjutkan studi ke jenjang yang tertinggi, yaitu jenjang S3 atau doktoral ke luar negeri. Dua di antara bagian dunia yang populer sebagai tujuan kuliah di luar negeri adalah Eropa Barat (Western europe) dan Asia Timur (Eastern Asia). Beberapa negara dengan tujuan populer di Eropa Barat, antara lain: United Kingdom (UK), Jerman, Perancis, Belanda, Belgia, Denmark, atau Finlandia. Sementara untuk kawasan Asia Timur, negara yang populer menjadi tujuan studi antara lain adalah China, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.

Lalu mengapa pada tulisan ini saya membandingkan kultur riset di dua benua ini? Jadi ceritanya pada hari Sabtu, 12 November 2022 kemarin saya menjadi menjalani sesi sebagai mentor 1-on-1 oleh Deall Career Mentoring Festival (DCMF). Pada sesi tersebut, saya mendapatkan mentee yang juga ternyata adik kelas saya yang sedang meniti karir sebagai seorang dosen atau peneliti. Saat ini, mentee saya di DCMF tersebut sedang menjalani studi S3 nya di Korea Selatan.

Perbedaan Budaya Riset S3 di Eropa Barat dan Asia Timur
Peran Saya dalam DCMF sebagai Mentor dalam Karir Bidang Pendidikan Tinggi bersama ratusan mentor lainnya

Dalam sesi mentoring 1-on-1 tersebut, Mentee saya ini kemudian menanyakan beberapa hal dan saya mencoba jawab dengan pengalaman yang saya miliki. Asyiknya mentoring seperti ini adalah kami bisa ngobrol santai dua arah, dan saya pun banyak belajar dari mentee saya ini. Salah satu yang saya pelajari adalah bagaimana mentee saya sharing dengan pengalamannya kuliah di Korea Selatan, sementara saya juga sharing tentang pengalaman saya kuliah S3 di Belanda, khususnya Delft University of Technology. Inilah yang kemudian mendorong saya untuk sharing tentang hasil pertemuan tersebut.

Namun, berikut ini adalah disclaimer dari saya:

PERBANDINGAN INI BUKAN UNTUK GENERALISASI, NAMUN HANYA SHARING PENGALAMAN DARI DUA ORANG YANG BERINTERAKSI DALAM MENTORING. Sehingga penting untuk melakukan konfirmasi kepada orang lain yang memiliki pengalaman studi di benua yang sama. Jadi tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran dari apa yang dialami oleh saya dan mentee saya.

Gambaran Kultur Riset S3 di Eropa Barat (Belanda)

Pada sesi mentoring tersebut, saya menjelaskan pengalaman yang saya alami saat riset S3 di Belanda. Poin ini merupakan jawaban dari pertanyaan mentee saya, yaitu: “Kak, gimana sih kultur riset di Belanda?” Berikut ini adalah poin – poin penting dari kultur riset S3 di Belanda,

  • Periset S3 atau PhD Candidate di Belanda akan dilatih sebagai seorang yang berambisi sebagai independent researcher, dengan maksud mampu mencari novelty, research question, menyusun metode penelitian, publikasi di jurnal top, hingga mempertahankan argumen thesis nya dengan baik (memiliki argumen yang kuat dan solid)
  • Karena tujuannya dilatih secara mandiri, maka PhD Candidate cenderung diberi kebebasan untuk melakukan eksplorasi terkait dengan topik risetnya
  • Pembimbing S3 di Belanda dan Eropa pada umumnya akan menganggap everything is fine, sampai kita berinisiatif bertanya dan mengatakan bahwa kita stuck.
  • Pembimbing S3 di tempat saya senang apabila saya sering bertanya, berinisiatif mengajak mereka diskusi, dan menyelesaikan stuck secara bersama – sama.
  • Apa yang saya alami, pembimbing saya terus-menerus memberitahu bahwa prioritas pertama untuk student mereka adalah: Mental health, well-being, family, baru kemudian Riset. Burnout karena riset, keluarga menjadi berantakan, dan menjadi tidak happy adalah percuma. Work-life balance adalah kunci dan happiness menjadi tujuan riset.
  • Terlihat bahwa kolega S3 yang sangat produktif risetnya (menghasilkan banyak paper)memang karena mereka senang dengan topiknya, passionate, dan happy, ditambah dengan pemberian otonomi untuk membawa ke mana arah riset mereka.
  • Riset S3 di Eropa, yang dipentingkan adalah kualitas, bukan kuantitas. Sehingga, syarat kelulusannya adalah mampu mempertahankan kualitas disertasi dengan baik dan output paper sebagai bonus, sesuai dengan ambisi kita sendiri atau kesepakatan dengan supervisor.
  • Riset S3 di Eropa selain lab (non-lab), boleh melakukan riset di mana saja, kehadiran di kantor tidak menjadi patokan kinerja (kecuali untuk sosialisasi), dan yang penting dapat memberikan progress report yang maksimal
  • Output paper umumnya digunakan untuk melakukan bypass review disertasi agar lebih singkat karena sudah di review terlebih dulu dengan peer di jurnal terkemuka.
  • Riset S3 di Eropa tidak memandang kualitas lulusan dari seberapa cepat dia lulus (kecuali untuk yang mengejar cum laude, atau extraordinary achievement), namun dari kualitas disertasi yang dibuat.

Salah satu hal yang saya temui dari kultur S3 seperti di atas adalah kita akan belajar untuk berpikir menjadi lebih kritis, mampu untuk menjadi periset independen. Namun di sisi lain, umumnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi menjadi lebih panjang dan lama dikarenakan supervisor mengejar kualitas riset yang sangat tinggi.

Gambaran Kultur Riset S3 di Asia Timur (Korea Selatan)

Sekarang, saya akan coba menjabarkan poin – poin yang saya dapatkan dari mentee saya tentang kultur riset S3 di Korea Selatan. Saya menjabarkan apa yang sekiranya saya ingat dari hasil diskusi kemarin dan juga dari tulisan catatan yang saya punya. Berikut ini adalah beberapa poin terpentingnya:

  • Periset S3 atau PhD di Asia Timur diposisikan sebagai junior researcher yang bertugas membantu riset profesor yang sudah memiliki arah yang jelas sehingga dapat langsung dieksekusi
  • Karena sudah memiliki arah yang jelas, umumnya PhD student dapat langsung mengerjakan riset, mencari data, dan menulis paper untuk publikasi. Di beberapa kesempatan, ada profesor yang sudah menyiapkan segala data sehingga tinggal diolah dan ditulis untuk publikasi. Tinggal nurut saja, semua insyaAllah beres.
  • Pembimbing S3 di Asia Timur akan fokus pada kehadiran, keberadaan mahasiswanya di kantor atau lab, dan juga progress dari output atau paper yang ditugaskan.
  • Mahasiswa S3 di Asia Timur umumnya memiliki jam kerja yang panjang, masuk jam 9 pagi, pulang jam 10 malam. Dalam beberapa kasus, tidak bisa pulang sebelum senior atau Profesor pulang. Menurut mentee saya, untuk mahasiswa asli Korea Selatan sendiri seringkali menggunakan Sabtu dan Minggu untuk bekerja juga. Untungnya untuk foreign student masih diberikan kesempatan untuk libur satu hari dalam seminggu
  • Prioritas kinerja PhD student secara kultur adalah output paper, kerja, kerja, kerja, dan pembahasan mengenai mental health/family cukup jarang terjadi. Overwork adalah suatu hal yang biasa, dan mendapatkan pembimbing yang perhatian dalam work/life balance adalah anugerah yang harus disyukuri.
  • Untuk lulus dengan baik, ikuti apa yang Profesor mau dan sebisa mungkin jangan pernah mendebat, bahkankalau pendapat/argumen kita lebih kuat. Jadi anak penurut adalah kunci.
  • Riset di Asia Timur umumnya ditandai dengan kecepatan lulus dan banyaknya output paper yang dihasilkan. Misalnya mentee saya dalam waktu 3 tahun studi ditargetkan 10 publikasi paper.

Dengan kultur S3 di Asia Timur seperti di atas, tentu memiliki kelebihan untuk tidak membuang waktu mencari state of the art dari research yang umumnya bisa menghasbikan cukup banyak waktu. Selain itu, durasi studi juga bisa diperpendek, dan kerja bisa lebih fokus karena semua sudah digariskan oleh Profesor atau pembimbing kita. Namun, kelemahannya tentu dari hasil diskusi saya dengan mentee saya ini adalah bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi berkurang, karena cenderung kita diminta untuk manut saja. Ada kekhawatiran jika nanti setelah lulus tidak percaya diri bisa menjadi seorang researcher yang independen.

Demikianlah sedikit sharing dari sesi yang saya dapatkan dengan mentee saya dalam DCMF. Semoga bermanfaat buat sahabat semua yang saat ini berniat untuk melanjutkan studi S3 nya dan sedang mempersiapkan diri. Ada baiknya mengonfirmasi perbandingan di atas dengan kolega lain yang juga studi di area yang / benua yang sama agar lebih yakin. Salah satu manfaat mengetahui hal ini tentu saja Anda nantinya lebih siap menghadapi kultur risetnya sehingga bisa meminimalisasi kendala yang akan Anda hadapi. Dan yang terpenting pastikan kultur risetnya sendiri cocok dengan tipe Anda, sehingga nantinya Anda akan menjadi periset yang lebih produktif lagi. Apakah ada pada poin – poin di atas hal yang kurang? Silakan Anda berikan tambahan dengan memberikan komentar pada comment box yang telah disediakan ya…

Perbedaan Budaya Riset S3 di Eropa Barat dan Asia Timur
Gambaran sesi 1-on-1 mentoring DCMF bersama mentee saya yang seru dan banyak pembelajaran

Oh ya, jangan lupa untuk menengok tulisan saya lainnya tentang bagaimana mendaftar S3 di Luar Negeri, khususnya Belanda.

Semoga bermanfaat ya!

Salam,
Arry Rahmawan