Salah satu tantangan paling umum yang sering dihadapi banyak orang saat mencoba memecahkan masalah dalam bisnis adalah adanya confirmation bias. Pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit sharing tentang apa itu Confirmation Bias dalam Problem Solving yang menyebabkan hasilnya menjadi tidak efektif.
Apa itu Confirmation Bias dan apa dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan?
Apa itu yang disebut confirmation bias? Menggunakan pengertian yang dielaborasi oleh the decision lab, berikut ini adalah pengertian dari confirmation bias:
“The confirmation bias describes our underlying tendency to notice, focus on, and give greater credence to evidence that fits our existing beliefs.”
The Decision Lab
Intinya confirmation bias adalah sebelum kita memecahkan masalah, kita sudah memiliki prasangka duluan terhadap penyebabnya disebabkan oleh belief kita sendiri, yang mengakibatkan kita hanya fokus mencari pembenaran tanpa mempedulikan fakta – fakta lainnya. Akibat yang ditimbulkan dari confirmation bias ini tentu saja kita berpotensi menolak akar permasalahan sebenarnya jika itu di luar dari keyakinan kita. Hasil akhirnya tentu saja masalah yang ada menjadi tidak terselesaikan. Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang apa itu confirmation bias, berikut ini adalah representasi visualnya yang saya ambil dari NN group,

Untuk memudahkan pemahaman confirmation bias ini, saya akan memberikan sedikit ilustrasi dari kisah saya ngobrol dengan teman saya yang merupakan seorang konsultan bisnis. Saya mendapatkan cerita ini sewaktu saya pulang ke Indonesia Bulan Juli lalu, di mana teman saya ini cerita salah satu tantangan paling ribet sebagai konsultan adalah ketika klien sudah memiliki belief dan confirmation bias dalam memecahkan masalah. Berikut adalah ilustrasinya,
Contoh Apa itu Confirmation bias: Problem-Solving di Kedai Kopi
Jadi teman saya cerita, pada suatu waktu dia sedang menangani masalah kliennya yang seorang owner kedai kopi terkenal di Jakarta. Gejala masalah yang muncul pada kedai kopi ini adalah penjualan yang terus-menerus turun selama 3 bulan terakhir. Padahal, selama 3 bulan itu tidak ada pembatasan sosial (akibat COVID-19) yang berarti dan orang sudah mulai sedikit banyak berkumpul kembali. Normalnya, masa – masa tersebut adalah masa panen kembali setelah banyak kedai kopi ‘berpuasa’ sekian lama karena pembatasan sosial. Namun, tidak untuk klien teman saya ini. Justru, pendapatan kedai tersebut semakin lama turun terus.
Teman saya kemudian bercerita bahwa sang owner berusaha terlebih dulu untuk memecahkan masalah tersebut. Namun, sang owner ini ternyata sudah memiliki belief sebelumnya, yaitu: “Kesuksesan akan datang bagi mereka para pekerja keras.”. Dan, belief ini dia gunakan dalam mencari akar masalah yang dia hadapi. Hingga sampailah dia pada temuan bahwa ternyata karyawannya ada beberapa yang saat jam kerja malah main HP, atau browsing tidak jelas. Maka, dia pun memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan membuat karyawan yang jaga harus memperkenalkan kopi kepada orang – orang yang lewat di depan kedai. Tidak hanya itu, jam kerja karyawan pun ditambah, untuk menjangkau anak muda yang suka nongkrong malam. Ditambah lagi setiap kedai sudah tutup, dia menahan karyawan untuk pulang sebelum memberikan laporan berapa gelas kopi yang terjual dan karyawan harus memberi alasan yang jelas apabila penjualannya di bawah target.
Strategi tersebut pada awalnya berhasil, namun tidak bertahan lama. Tidak sampai satu bulan, beberapa karyawannya yang loyal menjadi burnout, dan akhirnya mengajukan pengunduran diri karena menjadi tidak betah bekerja di kedai kopi tersebut. Tidak lama berselang, pendapatan kedai kopi pun menurun kembali dan ditambah saat ini kehilangan beberapa karyawan yang loyal dan dapat dipercaya.
Sampai akhirnya sang owner kedai kopi pun sampai mengontak teman saya ini untuk dibantu. Akhirnya teman saya menemukan bahwa penyebabnya terletak pada adanya kedai kopi baru di tempat yang lebih strategis, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari kedai kopi itu. Ternyata penyebabnya terletak pada lokasi yang kalah strategis, disertai dengan persaingan mutu produk yang ditawarkan. Barulah kemudian teman saya membantu memberikan beberapa saran kepada owner kopi ini.
Kembali pada cerita di atas. Ketika kita melihat bahwa owner kedai kopi sudah memiliki prasangka terlebih dahulu terhadap penyebab masalah dikarenakan dia memiliki keyakinan “sukses adalah untuk para pekerja keras,” Hal inilah yang dinamakan sebagai confirmation bias.
Strategi untuk menghindari confirmation bias dalam Problem Solving
Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari confirmation bias dalam melakukan problem solving? Jorge Barba, President of the Baja California Innovation Cluster, mengatakan ada 3 hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi confirmation bias.
Strategi pertama: Thinking Gray
Thinking gray atau berpikir abu – abu adalah mencoba untuk mengganti prasangka awal atau belief kita sebelum memecahkan masalah dengan pertanyaan yang lebih netral: mengapa masalah ini bisa terjadi, dan apa penyebabnya?
Pertanyaan netral seperti di atas akan memicu pikiran kita untuk menemukan jawaban yang objektif, dan memandang bahwa masalah tersebut masih abu – abu (gray) selama belum ada data solid yang ditemukan untuk mengetahui apa penyebab masalah yang sebenarnya.
Strategi kedua: Siapkan Devil’s advocate
Devil’s advocate adalah seorang yang sekiranya memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Devil’s advocate ini biasanya disiapkan jika memang belief atau prasangka awal kita memiliki chance yang besar bahwa hal tersebut benar. Devil’s advocate ini berperan sebagai penyeimbang yang akan melakukan challenge terhadap belief yang kita punya, sehingga kita dapat berpikir ulang bahwa bisa jadi belief awal kita salah. Devil’s advocate bisa berupa teman diskusi dalam tim yang bertugas untuk mencounter belief kita bahwa kita salah. Tentu saja strategi kedua ini membutuhkan keberanian diri untuk menerima kesalahan, apabila memang diri kita salah dan berlaku tidak objektif.
Strategi ketiga: Kurangi Mencari Kebenaran dari Sumber yang Memiliki Filter Bubble
Apa itu yang dinamakan filter bubble? Filter bubble adalah algoritma yang diterapkan untuk melakukan limit informasi sehingga yang muncul adalah apa yang kita suka saja dan memang mengonfirmasi belief kita. Filter bubble ini umumnya diterapkan di social media. Untuk itulah mengapa mencari kebenaran melalui social media yang menerapkan filter bubble perlu dikurangi karena hanya akan menguatkan confirmation bias dan akan semakin menjauhkan diri dari kebenaran yang sesungguhnya.
Demikianlah sedikit sharing saya mengenai apa itu confirmation bias dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Semoga dengan bertambahnya wawasan kita terkait dengan confirmation bias ini, semakin membuat kita mampu mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta yang lebih objektif.
Jangan lupa untuk melihat dan membaca artikel saya lainnya tentang Problem Solving dan Decision Making yang semoga bermanfaat untuk Anda.
Salam,
Arry Rahmawan


Leave a Comment