Apa saja peran ayah dalam parenting dan pendidikan anak?
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Pada artikel kali ini, saya ingin berbagi hal yang sedikit berbeda dari biasanya, yaitu mengenai peran ayah dalam parenting dan pendidikan anak. Saya terdorong untuk menulis artikel ini karena istri saya, salah satu pendiri dari AlkindiKids – Lembaga penguatan kapasitas ibu muslim untuk menjadi guru bagi anak – anaknya (parenting), sering mendapatkan pertanyaan, “jika ibu terus yang dididik dan dilatih untuk memiliki kemampuan parenting, maka seperti apa peran ayahnya?”. Jadilah kemudian kita berdiskusi di meja makan dengan segala panjang x lebar x tinggi, yang pada intinya mencetuskan ide dari istri saya, “Bagaimana kalau ayah (saya) bikin video untuk sharing bagaimana peran seorang ayah dalam pendidikan anak di keluarga?” Intinya istri saya mendorong untuk saya sharing tentang apa yang saya ketahui dan coba amalkan selama ini.
Mendapat pertanyaan tersebut, saya sebenarnya agak sungkan karena apa yang saya pelajari tentang peran ayah dalam parenting sebenarnya hanya ingin untuk diterapkan di keluarga saja. Namun, istri saya mencoba meyakinkan bahwa banyak di antara ayah yang selama ini hanya fokus pada mencari nafkah dan materi, namun berlepas tangan pada pendidikan anak.
Dengan mengingat firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ashr dan juga At-Taubah, di mana Allah berfirman bahwa manusia yang ‘beruntung’ adalah mereka yang senantiasa saling menasihati dalam kebenaran, kebaikan, dan kesabaran, maka bismillaah sebelum membuat videonya, saya mencoba membuat tulisan sederhana dari hasil pembelajaran saya selama ini terkait dengan bagaimana peran ayah dalam pendidikan anak. Semoga ada yang membaca dan bisa mengambil manfaatnya walaupun sedikit.
Adapun yang saya tuliskan ini semata – mata adalah untuk pengingat bagi diri saya sendiri yang masih terus-menerus belajar. Saya pun belum dapat dikatakan sebagai seorang ayah yang berhasil, karena anak saya yang baru berusia 6 tahun dan 11 bulan saat artikel ini ditulis. Perjalanan parenting saya tentu masih panjang jika Allah mengizinkan saya mendapat umur yang panjang. Namun, saya pikir catatan ini penting untuk saya bagikan agar saya terdorong untuk terus menjadi ayah yang konsisten dalam menerapkan apa yang saya tulis ini.
Lantas, Apa Saja Peran Ayah dalam Parenting dan Pendidikan Anak?
Tulisan ini berfokus untuk menjawab pertanyaan di atas: apa saja peran ayah dalam parenting dan pendidikan anak? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mencoba untuk mengacu kepada Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW, karena saya dan keluarga meyakini bahwa sebaik – baik petunjuk atas segala pertanyaan di muka bumi ini ada di Al-Quran dan Hadits. Tugas saya kemudian mencoba untuk merangkum berbagai intisari dan membuatnya terstruktur agar mudah untuk dilaksanakan (setidaknya bagi diri saya sendiri).
Berdasarkan dari apa yang saya pahami melalui penyelaman Al-Quran dan Hadits selama kurang lebih 3 tahun terakhir tentang peran ayah dalam parenting, sekurang-kurangnya saya menemukan ada 5 peran ayah dalam pendidikan anak. Namun sebelum itu, apa yang dimaksud parenting di sini? Saya menggunakan definisi dari Brooks (2012), yaitu:
Parenting adalah upaya mendukung perkembangan dan kematangan potensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual anak sejak baru lahir hingga dewasa atau baligh.
Menggunakan definisi tersebut, kita menyadari bahwa tujuan parenting ini mempersiapkan anak – anak kita menjadi seorang yang matang pada saat dewasa, tumbuh keterampilan fisik, emosional, sosial, intelektual, hingga spiritual, yang akhirnya mampu menjadi seorang pribadi yang tangguh dalam menuntaskan visi dan misinya sebagai manusia di dunia.
Ketika saya mengetahui tujuan parenting ini, seketika suara hati saya mengatakan, “tidak mungkin menyerahkan tugas pematangan ini seorang diri pada seorang ibu.”. Maka, di sinilah saya tergerak untuk ikut mengkampanyekan peran ayah dalam parenting bersama istri saya, untuk menyadarkan bahwa ternyata ayah bukan hanya memiliki tugas mulia untuk memberi nafkah, tetapi juga mempersiapkan kematangan potensi yang dimiliki anak – anaknya saat aqil baligh nanti.
Jika kita sudah sadar akan peran ini, lalu bagaimana kita sebagai ayah mengemban tanggung jawab parenting ini?
Pertanyaan itulah yang coba saya jawab dengan menyelami literatur dengan Al-Quran dan Hadits sebagai fondasinya. Dari hasil ‘menyelam’ ini, sekurang – kurangnya saya mempelajari ada 5 peran ayah dalam parenting dan pendidikan anak dalam keluarga.
PERAN 1: AYAH SEBAGAI PEMIMPIN DAN PELETAK VISI-MISI KELUARGA
Dalam parenting, saya meletakkan peran ini di nomor satu karena menurut saya hal ini paling fundamental. Peran pertama ayah ini adalah sebagai seorang pemimpin dan peletak visi-misi keluarga. Peran yang tadinya dijalankan berdua bersama istri, hingga akhirnya diturunkan kepada anak – anak.
Terkait dengan hal ini, saya belajar banyak di QS. Luqman ayat 13, dengan bunyi:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ(13)
artinya : Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”.
Di ayat lainnya, selayaknya nahkoda, seorang ayah adalah pemegang kemudi yang menentukan arah berjalannya bahtera. Tugas utama dan visi seorang ayah sebagai pemimpin keluarga, sesungguhnya sudah Allah tentukan Dalam QS At Tahrim: 6,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Dari dua ayat ini saya belajar memahami bahwa peran ayah adalah ‘meletakkan misi hidup’ untuk istri dan anak – anak bahwa hidup di dunia untuk tidak menyekutukan Allah SWT. Dengan bahasa yang lebih lugas, Allah SWT berfirman dalam QS. Al- A’raf: 172,
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Berdasarkan dari 2 ayat ini, maka apa yang dapat saya pahami tentang peran seorang ayah adalah memimpin istri dan anak – anaknya untuk menyadari serta menjalankan fitrah manusia sebagai hamba Allah SWT.
Lalu, bagaimana dengan visi? Jika kita sudah memahami bahwa misi kita ini adalah sebagai hamba Allah SWT, lantas apa visi atau arah yang ingin kita tuju? Selain memiliki misi yang jelas, adanya visi yang clear juga merupakan hal yang sangat penting. Dalam buku best-seller 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menyebut dalam habit ke-2 bahwa kesuksesan manusia adalah dengan menerapkan begin with the end in mind. Maksudnya adalah untuk menjadi orang yang efektif dan sukses, maka mulailah dengan segala sesuatu dengan merumuskan tujuan akhirnya, sehingga kita tahu mau ke mana, dan apa yang kita lakukan mendukung kita ke arah tersebut. Bagi saya, pesan ini tidak hanya untuk manusia secara individu, tapi juga berkelompok, termasuk berkeluarga.
Namun ternyata 1,400 tahun yang lalu, apa yang disampaikan oleh Stephen R. Covey ini sudah disampaikan terlebih dulu oleh Nabi Muhammad SAW,
Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakan manusia yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsami).
Semakin saya mendalami ilmu – ilmu pengembangan diri modern, justru malah membuat saya semakin terkagum-kagum akan lengkapnya Islam dalam memandu hidup manusia. Bayangkan, 1,400 tahun yang lalu Rasulullah SAW sudah memberikan tips untuk menjadi orang cerdas, sama seperti tips yang diberikan Stephen R. Covey. Perbedaannya, Rasulullah SAW bahkan mengajak kita berpikir lebih dari sekedar tujuan hidup di dunia, tetapi juga tujuan hidup setelahnya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.
Al-Qur’an pun dengan sangat jelas menggambarkan seperti apa kondis kehidupan setelah mati, dan bahkan setelah hari kiamat tiba. Salah satu penjelasannya ada QS. Al-Waqi’ah: 7-10. Di mana setelah hari kiamat nanti, Allah SWT akan membagi manusia ke dalam 3 golongan. Golongan pertama adalah golongan kanan, golongan yang mulia dan mendapatkan surga dari Allah SWT. Golongan kedua adalah golongan kiri, golongan yang sengsara, yang mendapatkan neraka. Serta golongan ketiga, yaitu orang yang lebih dahulu beriman, seperti Rasul, Nabi, sahabat, para syuhada dan orang shalih yang dipilih oleh Allah SWT, di mana diberikan keistimewaan masuk surga Allah terlebih dulu. Ini adalah sebuah visi besar yang tidak akan ditemukan dengan detil di buku manapun, karena hanya Allah SWT yang tahu.
Di situlah kemudian saya tersadar bahwa di antara ketiga golongan itu, tentu kita tidak berharap menjadi golongan kiri. Paling tidak, visi yang dicanangkan bagaimana kita dan keluarga kita dapat terpilih menjadi orang – orang golongan kanan. Di sinilah saya tersadar bahwa ketika menikah dan mempunyai anak, bagaimana kemudian kita bisa membawa diri dan keluarga untuk menjalankan visi dan misi berbasis fitrah. Apa misi fitrahnya? Yaitu menjadi hamba Allah SWT yang taat, dan apa visinya? Yaitu menjadi golongan kanan atau orang yang mendapatkan Surga Allah SWT.
Sebagai ilustrasi, saya menyampaikan misi dan visi tersebut dengan logika pelaut yang harus menentukan arah terlebih dulu agar dapat sampai ke tujuan. Ibarat menggunakan teropong untuk mengantarkan kapal menuju tujuannya, maka misi dan visi di atas juga perlu disadari untuk mengantarkan kita sebagai manusia menuju akhir yang diimpikan.

PERAN 2: MERANCANG DAN MENGAWASI KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK
Menyadari bahwa kita sebagai manusia memiliki visi dan misi fitrah, tentu menimbulkan pertanyaan di benak saya: bagaimana cara meraih visi tersebut? Bagaimana cara mendidik diri serta anak – anak agar bisa mendapatkan surga Allah SWT? Adakah petunjuk yang ada di Quran dan Hadits terkait hal ini? Sebagai pendidik, adakah suatu kurikulum yang pentiing untuk dirancang dan diajarkan kepada anak?
Lagi-lagi saya menemukan petunjuk dalam Al-Quran, tepatnya di QS. At-Taubah: 111 – 112. Dalam surat tersebut, Allah menyatakan telah melakukan jual beli kepada orang Mukmin dengan memberikan surga yang ditukar dengan jiwa dan harta yag kita miliki. Lalu seperti apakah kriteria orang – orang yang beruntung ini? Yaitu adalah mereka yang:
(1) Beriman kepada Allah SWT
(2) Bertaubat
(3) Beribadat
(4) Memuji Allah SWT
(5) Rukuk
(6) Sujud
(7) Mengembara (demi ilmu dan Agama)
(8) Menyuruh berbuat Ma’ruf dan Mencegah dari yang Mungkar
(9) Menjaga hukum – hukum Allah SWT.
Dari 9 poin yang Allah sebutkan ini, saya mengambil ada sekurang – kurangnya 5 pokok kecerdasan yang perlu ditanamkan agar kita menjadi orang yang beruntung:
(1) Kecerdasan Spiritual (Poin 1 – 4), yaitu memaknai segala aktivitas yang kita lakukan dalam kerangka beribadah kepada Allah SWT
(2) Kecerdasan Fisik (Poin 3-6), yaitu menjaga fisik agar tetap bugar agar dapat memberikan ibadah terbaik
(3) Kecerdasan Intelektual (Poin 7), yaitu senantiasa belajar dan mengembara untuk menuntut ilmu
(4) Kecerdasan Sosial (Poin 8), yaitu menunjukkan kepedulian kepada sesama dengan menyuruh pada hal baik dan melarang pada hal buruk
(5) Kecerdasan emosional (Poin 9), yaitu menjaga hukum – hukum Allah di muka bumi sebagai khalifah dengan pendekatan rahmatan lil ‘aalamin, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam dengan kasih sayang dan perdamaian. Karena untuk menjadi rahmat dan pemimpin yang baik bagi Semesta, sangat diperlukan kesabaran dan akhlak Mulia. Dua Hal utama yang merupakan hasil dari kecerdasan emosi yang baik.
MasyaAllaah… betapa Al-Quran begitu sempurna menunjukkan satu demi satu jalan petunjuk untuk menjalankan hidup di dunia ini. Basis inilah yang kemudian saya jadikan landasan untuk merancang dan mengawasi bagaimana penerapan pendidikan kurikulum di rumah untuk anak – anak. Agar lebih mudah diingat, saya biasa menyingkat 5 kecerdasan di atas cukup dengan slogan 3I, yaitu penguatan Iman (spiritual), Ilmu (intelektual), dan Impact (fisik, emosional, dan sosial).
Peran saya sebagai ayah, memastikan bahwa saya dan istri sudah merancang kurikulum berbasis 3I ini sesuai dengan potensi dan kondisi anak – anak kami. Alhamdulillaah, saya memiliki istri yang memiliki passion dalam mengoperasionalisasi kan konsep ini, di mana salah satunya melalui program Alkindi Online Pre-School (AOP), sebuah program yang berisi panduan, modul, dan toolkit bagi orang tua untuk mendidik anak – anaknya secara mandiri di rumah, untuk mengembangkan potensi 3I nya. Bersama istri, kami merancang apa yang sekiranya cocok untuk anak pertama kami (Irsyad), sekaligus sambil mengawasi mana yang sekiranya berjalan baik dan tidak. Hasil eksperimen ini kemudian dijadikan modul pendidikan untuk Alkindi Online Pre-School.
Berikut ini sekilas ilustrasi bagaimana aplikasi perancangan kurikulum anak kami, yaitu peningkatan kapasitas intelektual dengan mengunjungi museum antariksa di Belanda, sebagai salah satu pemetaan minat dan bakat anak di bidang engineering,

PERAN 3: SEBAGAI PENASIHAT DAN MENTOR UNTUK ANAK
Adapun menyadari visi, misi, serta memiliki kurikulum yang rapi untuk pendidikan tidak menjamin bahwa kehidupan selalu lurus. Adakalanya sebagai seorang ayah, kita perlu melihat apakah anak – anak sudah mampu memahami apa visi-misi hidup berbasis fitrah, seperti yang dijelaskan pada poin 1.
Peran ini terutama saya lakukan di masa anak saya sudah menginjak usia 5 tahun dan mempersiapkan dirinya menuju 7 tahun. Salah satu hal yang sering saya coba awasi adalah membantu anak saya untuk beralih dari semangat amal yang dari ingin mendapat hadiah dan pujian (reward-based) seperti yang biasa diberikan sebelum 5 tahun (karena kami ingin membangun kepercayaan diri dan self efficacy nya), menuju semangat amal berbasis pada fitrah, tidak lain adalah menggapai ridha Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.
Selain itu, sebagai ayah, saya merasa memiliki tanggungjawab untuk membantu anak saya menjadikan segala atribut dan target – target tujuan di dunia adalah semata – mata untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam dan khalifah di muka bumi. Pernah ada satu kejadian misalkan Irsyad merasakan sedih yang amat sangat ketika dia tidak menjadi juara 1 dalam suatu kompetisi atau permainan cepat tangkas. Di situ kemudian saya melihat dirinya seperti hancur karena tidak menjadi nomor satu. Di sinilah kemudian saya mencoba untuk menjadi mentornya dengan mengajak bicara secara empat mata dengan serius tapi santai.
Dalam sesi ‘mentoring’ tersebut, saya menekankan pesan bahwa bukan menjadi ranking 1 atau 100 yang penting, namun yang terpenting adalah apakah kamu sudah berusaha yang terbaik, melandasi niat karena Allah, menjunjung tinggi kejujuran, dan bagaimana kamu menggunakan ilmu mu untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Karena yakinlah bahwa segala apapun amal, yang dilandasi oleh niat menggapai ridha Allah, walaupun itu baru sekedar mengangkat pensil untuk menulis, maka Allah Maha Mengetahui dan akan mendatangkan kebaikan.
Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan Luqman sebagai mentor anaknya pada QS. Luqman ayat 16,
يَابُنَيَّ إِنَّهَاإِنْ تَكُ مِثقَالَ حَبَّةٍ مِن خَردَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَو فِي السَّمَوَاتِ أَو فِيَ الأَرْضِ يَأْتِ بِهَااللهُ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ(16
artinya : “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada seberat biji sawi, dan berada dalam batukarang atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya, Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
Sehingga bukan perkara rankingnya, profesinya, hartanya, atau jabatannya yang menjadi tujuan bagi saya dan istri dalam mendidik anak, namun yang terpenting adalah seberapa konsisten anak – anak kami bersemangat menuntut ilmu dan melakukan amal karena niat yang tulus untuk menggapai ridha Allah SWT. Kami terus-menerus mengingatkan diri jangan sampai kami meletakkan derajat penilaian kami kepada anak – anak dari atribut yang mereka miliki (ranking, jabatan, gelar, harta, dsb), karena itu akan mendorong anak – anak kami untuk menjadikan atribut dunia sebagai tujuan untuk mendapatkan pengakuan kami sebagai anak yang sukses, di mana bukan itu definisi sukses berdasarkan Al-Quran.

PERAN 4: SEBAGAI TELADAN BAGI ANAK
Dengan sadarnya ayah terkait 3 peran sebelumnya, maka peran keempat ini merupakan peran paling menantang bagi setiap ayah di muka bumi, yaitu menjadi teladan bagi anak – anaknya.
Dalam hadits riwayat Al-Bukhari nomor 1385, Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits di atas mengingatkan saya sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga untuk senantiasa berhati – hati dalam bersikap. Karena bagaimanapun, anak akan akan meniru dari apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya.
Salah satu bentuk keteladanan klasik yang saya lakukan adalah membiasakan Irsyad untuk shalat wajib berjamaah di Masjid, sehingga selalu saya ajak apabila saya pergi ke masjid. Dalam waktu perjalanan kami ke masjid, sering saya manfaatkan untuk sekedar berdiskusi, berbagi cerita, atau menanyakan kabar. Keteladanan ini setidaknya untuk menanamkan kepada Irsyad sejak kecil bahwa shalat itu adalah tiang agama, dan bersama ayahnya kita sama – sama menegakkannya.
Contoh teladan lain misalnya saya bersikeras kepada diri saya bahwa sebelum memulai aktivitas pagi hari, saya menyempatkan untuk membaca Al-Quran. Saya tidak menyangka bahwa hal tersebut membekas pada Irsyad, hingga pada suatu hari saat menunggu kereta di stasiun, dia membuka mushaf dan membaca Al-Quran sambil menunggu kereta datang.
Contoh teladan lain adalah saya punya kebiasaan untuk banyak membaca buku baik secara digital dan fisik. Hal ni ternyata memantik rasa persaingan dalam diri anak saya untuk juga banyak membaca buku dan belajar dengan semangat setiap hari.
Salah satu kesempatan lain yang menurut saya baik untuk menjadi teladan adalah pada saat saya diminta untuk menjadi khatib shalat Ied di Belanda. Pada saat itu, dengan mengucap bismillaah dan juga termotivasi ingin mendidik anak agar kelak menjadi pemberi petunjuk dan bisa menjadi imam shalat bagi umat Islam di manapun dia berada, maka saya beranikan untuk menjadi khatib shalat Ied. Foto berikut ini adalah foto diambil dari tempat Irsyad duduk, bersama ibunya.

Lalu, apakah kami (saya dan istri) sudah menjadi teladan yang sempurna untuk 3 peran yang saya jabarkan sebelumnya? Apakah saya sudah menerapkan visi-misi berbasis fitrah dengan sempurna? Apakah saya sudah konsisten mengembangkan kapasitas 3I saya? Apakah saya adalah orang yang tidak punya kesalahan dan tampil sempurna di hadapan anak? Jawabannya adalah tidak, dan tentu saja tidak mungkin.
Maka di sini saya mengambil jalan tengah. Apa yang dimaksud jalan tengah adalah saya semaksimal mungkin mencoba untuk menjalankan nilai – nilai tersebut, namun saya memposisikan kepada anak bahwa saya adalah manusia yang tidak sempurna dan juga banyak salah. Apa yang kemudian saya lakukan adalah saya membuka ruang bagi anak saya (Irsyad) untuk memberikan masukan, saran, dan kritik apabila saya tidak konsisten dengan nilai saya sendiri. Apabila hal tersebut benar dan sesuai fakta, maka tidak ada pembelaan apapun dan saya mengakui bahwa saya dan Irsyad benar.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, kita bisa menjadi teladan dengan 2 hal. Pertama adalah dengan memberikan contoh yang baik. Kedua adalah dengan menerima masukan ketika kita salah dan membenarkan pendapat anak jika memang itu benar, sehingga pesan – pesan tersebut semakin tertanam kepada anak karena bukan hanya melihat orang tuanya, tetapi juga karena diberikan kesempatan untuk menyampaikan hal yang benar kepada orang tuanya ketika orang tuanya melakukan kesalahan.
Maka di sini saya bersama istri sepakat untuk membentuk keluarga yang nyaman untuk saling mengingatkan dan diingatkan satu sama lain. Standar benar atau salah, dikembalikan kepada Al Quran dan Hadits sebagai kitab hukum tertinggi, sesuai dengan Sila 1 Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Sebagai orang tua, tentu kita ingin terlihat keren di mata anak. Ketika ada masukan dari anak, mungkin kita akan mencoba menemukan 1001 alasan yang sophisticated untuk menutupi kesalahan yang kita lakukan. Membungkus seolah – olah kesalahan yang kita lakukan harus dimaklumi sebagai orang tua, dan memiliki makna yang baik adalah hal yang coba kami hindari sebagai orang tua. Sebagai contoh sederhana, misalkan mencontohkan makan sambil berdiri, atau makan dengan tangan kiri. Kemudian anak bilang, “ayah, ga boleh makan dengan tangan kiri dan berdiri.”. Maka saya menjawab, “Terima kasih, Irsyad. Irsyad benar dan maafkan ayah ya,” lalu saya duduk dan makan dengan tangan kanan. No debate, walaupun saya punya 1001 jurus untuk menjelaskan kenapa saya makan sambil berdiri dan dengan tangan kiri pada waktu itu.
PERAN 5: SEBAGAI TEMAN BERMAIN ANAK
Peran ini merupakan tambahan bagi saya pribadi karena banyak manfaat yang saya rasakan. Saya sebagai seorang ayah, mencoba untuk bertukar hobi dan bermain bersama anak saya untuk meningkatkan hubungan emosional antara ayah dengan anak. Dengan kedekatan hubungan emosional ini, diharapkan anak akan memiliki kenyamanan untuk menceritakan sesuatu yang mungkin dia malu atau sungkan untuk menceritakannya.
Apa yang biasanya saya lakukan adalah dengan bertukar hobi dengan anak. Saya mencoba untuk memahami apa hobi anak saya, dan bermain bersama dengan anak saya terkait dengan hobinya. Sebagai contoh, saya mengetahui bahwa anak saya sangat suka permainan yang berupa strategi dan berpikir. Salah satu bentuk permainannya adalah berupa board game yang membuat saya dan anak berkompetisi satu sama lainnya.
Maka sebisa mungkin setiap weekend saya luangkan waktu untuk bermain bersama anak saya, sambil bertanya bagaimana kabarnya. Di permainan itu, terkadang kami tertawa bareng, kesal bareng, atau bahkan marah-marahan bareng. Namun setelah bermain, semua harus kembali membaik dan seperti sedia kala. Saya pun kadang memperkenalkan hobi saya kepada Irsyad dan mengajaknya bermain bareng.
Waktu weekend sebisa mungkin saya luangkan untuk bisa bermain dengan anak – anak, walaupun itu hanya sebentar dan di tengah kesibukan yang menggunung. Hal ini semata – mata untuk membuat anak – anak bisa mempercayai bahwa ayahnya adalah temannya, ayahnya adalah teman diskusi asyiknya, ayahnya adalah mentornya, dan ayahnya adalah pemimpinnya.

Mengenai bermain dengan Anak ini, ternyata Rasulullah SAW pun menyampaikan keutamaan bermain bersama Anak.
Ada empat hal selain mengingat Allah (berzikir) yang tidak termasuk melalaikan. Berlatih kuda, memanah, bermain dengan keluarga dan berenang” (HR. Thabrani).
MasyaAllah! Tak hanya bermanfaat untuk Anak Dan meningkatkan bonding, ternyata bermain bersama Anak juga merupakan Hal yang mendatangkan pahala dan disandingkan dengan kegiatan berzikir. Tak heran, banyak riwayat yang menceritakan Rasulullah bermain bersama Anak-anak.
Sebut saja Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair bin Abbas r.a. suatu ketika terlihat Rasulallah membariskan mereka bertiga seraya bersabda,
“Siapa di antara kalian yang berhasil mengejarku maka akan mendapatkan hadiah ini dan ini.”
Agar ketiga anak itu tertarik, Rasulallah sholallahu alaihi wasallam memotivasi mereka. “Anak yang lincah akan menjadi orang dewasa yang cerdas.”Mendengar hal itu, ketiganya segera mengejar Rasulullah yang berlari. Dengan sekuat tenaga akhirnya mereka dapat menyusul dan bisa menangkap Rasulallah. Ada yang naik ke punggungnya, memegangi punggungnya, dan yang mendekap dadanya. (Lihat dalam Kitab Tarbiyatul Aulad, halaman 577 – karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan)
Demikian 5 peran yang bisa saya jabarkan. Semoga bermanfaat untuk para Ayah yang saat ini sudah menyadari pentingnya ayah dalam parenting, namun bingung untuk memulai dari mana. Kelima peran ini tentu saja tidak mengesampingkan peran ayah sebagai tulang punggung dan pemberi nafkah keluarga. Kelima peran ini saya coba jalankan di saat saya juga berperan sebagai Full-time researcher di TU Delft, Penasihat / Konsultan untuk kementerian, trainer untuk perusahaan-perusahaan, dan juga dosen di Universitas Indonesia.
Silalkan disebarkan dan dibagikan apabila dirasa bisa membantu para ayah lain yang bingung tentang apa sebenarnya peran ayah dalam pendidikan Anak. Sementara bagi ayah yang sekiranya memiliki pendapat lain terkait dengan peran yang belum disebutkan di atas, silakan sampaikan melalui kotak komentar agar kita bisa berdiskusi bersama. Terima kasih untuk uma @nurimannisa yang sudah mereview dan menjadi teman diskusi yang asyik sehingga artikel ini akhirnya bisa terbit. Baca juga buku kami Happy Life Guidebook yang semoga dapat memandu jalan hidup yang lebih bahagia.
Salam,
Arry Rahmawan
Refeerensi
Al-Quran dan Hadits
Jane B. Brooks (28 September 2012). The Process of Parenting: Ninth Edition. McGraw-Hill Higher Education. ISBN978-0-07-746918-4. For the legal definition of parenting and parenthood see: Haim Abraham, A Family Is What You Make It? Legal Recognition and Regulation of Multiple Parents (2017)


Hai! Aku juga nulis tentang pengalaman tumbuh tanpa figur ayah. Mungkin bisa relate atau berguna buat yang baca di sini juga 🙂