Pemanfaatan Lean UX Canvas untuk Memecahkan Masalah Bisnis

Pemanfaatan Lean UX Canvas untuk Memecahkan Masalah Bisnis

Menjadi konsultan bisnis dan trainer business canvas sejak tahun 2012 memberikan saya banyak kesempatan untuk bisa belajar beragam jenis-jenis tools untuk melakukan problem solving dan decision making dalam bisnis. Salah satu yang akan saya bagikan pada kesempatan kali ini adalah pemanfaatan Lean UX Canvas untuk Memecahkan Masalah Bisnis.

Lean UX Canvas merupakan sebuah alat bantu bisnis yang diciptakan oleh Jeff Gothelf dengan beberapa tujuan. Di antaranya adalah:

  • Memfasilitasi komunikasi antar divisi tim yang berbeda untuk menyepakati masalah bisnis krusial yang saat ini sedang dihadapi serta memikirkan bagaimana menghadapinya.
  • Goal utama dari Lean UX Canvas adalah memastikan bahwa solusi – solusi yang diciptakan oleh tim berorientasi kepada konsumen (customer – centric), dan mampu menjawab “mengapa” solusi tersebut muncul.
  • Lean UX Canvas dapat menjadi jalan pembuka untuk tim bisnis bereksperimen terhadap solusi yang dihasilkan sehingga masalah bisnis terselesaikan.
  • Pada akhirnya, dengan menggunakan Lean UX Canvas, bisnis atau perusahaan dapat menyatukan antara business outcome (dari perspektif organisasi) dan juga user outcomes and benefits (dari perspektif konsumen) sehingga tercipta solusi yang win-win dari kedua sisi.

Lalu, seperti apakah bentuk dari Lean UX Canvas? Berikut ini adalah bentuk dan bagian – bagiannya.

Pemanfaatan Lean UX Canvas untuk Memecahkan Masalah Bisnis
Tampilan utama dari Lean UX Canvas (sumber: jeffgothelf.com)

Berbeda dengan Business Model Canvas yang memiliki 9 blok, untuk Lean UX Canvas ini memiliki 8 blok yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Kedelapan blok tersebut adalah:

  • Blok 1 – Business Problem: Blok ini berisi penjelasan terkait dengan masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh bisnis dan ingin diselesaikan dengan segera. Salah satu trik untuk mengisi bagian ini adalah dengan menyebutkan apa kondisi eksisting yang saat ini sedang dihadapi dan mengapa hal tersebut menjadi masalah (apakah ada gap dengan kondisi ideal yang diharapkan?)
  • Blok 2 – Business Outcomes: Blok ini berisikan indikator keberhasilan yang diharapkan oleh bisnis dan sebagai petunjuk bahwa masalah yang dihadapi telah selesai. Dengan kata lain, Business Outcomes menjelaskan kondisi ideal yang ingin dicapai dalam bisnis.
  • Blok 3 – Users: Blok ini berisi penjelasan detil tentang siapa pengguna produk atau jasa kita. Bagian ini biasanya merupakan penjabaran dari Persona Canvas, yaitu tools business canvas yang biasa digunakan untuk menggali profil konsumen utama dalam bisnis.
  • Blok 4 – User outcomes and benefits: Blok ini berisikan tentang ekspektasi yang ingin didapatkan user dari produk atau jasa yang kita berikan. Biasanya user outcomes ini diisi dengan terbantunya user mendapatkan apa yang mereka inginkan (gain) atau menghindari apa yang mereka takutkan (pain).
  • Blok 5 – Solutions: Blok ini berisikan alternatif solusi yang diharapkan dapat mengantarkan bisnis untuk mencapai Business Outcomes DAN User outcomes secara bersamaan. Menurut pendapat saya pribadi, di sinilah letak keunikan dari Lean UX Canvas, yaitu mengajak tim berpikir untuk menemukan solusi yang bisa menyatukan tercapainya goal business dan ekspektasi user.
  • Blok 6 – Hypotheses: Blok ini berisikan hipotesis untuk diuji dalam eksperimen sehingga didapatkan mana solusi yang sekiranya paling tepat untuk memecahkan masalah bisnis. Gothef merekomendasikan untuk menggabungkan blok 2, 3, 4, dan 5 saat membentuk kalimat hipotesis. Sehingga bentuknya menjadi seperti ini: “Kami percaya bahwa [Business Outcomes] dapat dicapai apabila [Users] mendapatkan [User Outcomes] melalui [Solution] yang ditawarkan.”
  • Blok 7 – The Most Important Thing to Learn First: Blok ini berisikan mana hipotesis terpenting yang harus diuji terlebih dahulu untuk mendapatkan pelajaran secepat mungkin. Blok 7 ini relevan apabila hipotesis yang dihasilkan pada blok 6 berjumlah banyak atau lebih dari 1. Biasanya hipotesis yang diutamakan untuk diuji adalah hipotesis yang solusinya memiliki orisinalitas tinggi, memberikan gagasan yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga memberikan risiko tinggi apabila langsung diimplementasikan dalam skala besar pada bisnis.
  • Blok 8 – Least Amount of Work to Learn the Most Important Thing: Blok ini menjelaskan bagaimana mekanisme pengujian yang akan dilakukan, sesuai dengan jenis hipotesis yang ingin diuji. Bentuk dari mekanisme ini bisa beragam, mulai dari survey, uji sampel, membuat landing page di internet, soft launching di social media, dan lain sebagainya.

Demikianlah sedikit penjelasan umum tentang salah satu canvas yang saya rekomendasikan untuk digunakan dalam pemecahan masalah, yaitu Lean UX Canvas. Dengan menggunakan Lean UX Canvas ini, tim dari berbagai divisi yang memiliki tugas berbeda akan dapat berdiskusi bersama tentang masalah krusial yang sedang dihadapi organisasi saat ini. Selain itu, Lean UX Canvas juga dapat membantu memperjelas goals / objectives dari 2 perspektif yang berbeda: yaitu perspektif bisnis dan konsumen atau user. Bahkan, Lean UX Canvas ini menegaskan bahwa jika kita ingin memecahkan masalah bisnis, maka fokuslah kepada permasalahan konsumen. Dengan menghasilkan solusi yang tepat sasaran dalam menyelesaikan masalah konsumen, maka secara logika performa bisnis (business outcome yang diharapkan) juga akan naik.

Untuk contoh pengisian Lean UX Canvas secara riil dalam bisnis, insyaAllah akan saya update artikel ini di kesempatan berikutnya.

Salam,
Arry Rahmawan