Mengenal Mission Model Canvas

Mengenal Mission Model Canvas untuk Pengembangan Organisasi non-Profit

Alasan saya menulis artikel tentang mengenal Mission Model Canvas ini bermula dari pelatihan Business Model Canvas yang sering saya bawakan tidak jarang dihadiri oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) atau juga para birokrat yang memiliki wewenang untuk menentukan hajat hidup orang banyak. Pada awalnya, saya pikir mereka ingin ikut pelatihan Business Model Canvas karena ingin membangun bisnis secara mandiri (mungkin untuk persiapan pensiun, pikir saya). Namun ternyata mereka penasaran apakah memang konsep Business Model Canvas bisa diterapkan untuk instansi pemerintahan, yang notabene sifatnya adalah melayani, bukan seperti bisnis yang ingin mencari cuan.

“Mas Arry, sebenarnya bisa ga sih BMC ini dipakai untuk inovasi di instansi pemerintahan?”

“Tentu bisa, Pak.”, jawab saya.

“Loh, tapi gimana ini kan kalau BMC ada cost structure, ada revenue stream, sementara kalau kami di pemerintahan bukan fokus mencari cuan.”

“Iya pak, betul memang blok BMC ini kurang cocok kalau langsung diterapkan. Makanya ada yang namanya “Mission Model Canvas”, jadi bukan pakai BMC, melainkan MMC.”

“Wah apa itu MMC, mas? Boleh dong ajarin….”

“Boleh pak nanti kita diskusi, atau nanti kita bikin workshop online nya.”

Tidak berapa lama setelah itu, saya pun kemudian memperkenalkan apa yang dinamakan Mission Model Canvas (MMC), beserta memfasilitasi workshop di sebuah balaikota yang memiliki visi untuk menjadi smart cities. Pada artikel kali ini, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya dalam memfasilitasi workshop ini. Siapa tahu ini dapat menjadi pembelajaran pada instansi – instansi pemerintahan lain yang ingin melakukan inovasi dengan pendekatan business canvas.

Artikel ini akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan menjelaskan tentang Mission Model Canvas, dan bagian kedua akan menjelaskan tentang bagaimana pengisian Mission Model Canvas untuk Lembaga Pemerintahan.

Mengenal Mission Model Canvas – Canvas untuk Pengembangan Organisasi non-Profit

Mission Model Canvas diciptakan pada tahun 2016 oleh Strategyzer, pihak yang juga menciptakan Business Model Canvas. Jadi sebenarnya MMC dan BMC ini adalah kakak beradik, hehe… Lalu seperti apa sih tampilan dari MMC itu? Berikut ini adalah tampilan full dari MMC:

Mengenal Mission Model Canvas
Ilustrasi dari Mission Model Canvas (MMC)

MMC masih menggunakan bentuk yang sama dengan BMC, yaitu memiliki 9 blok utama. Kesembilan blok utama ini adalah,

  • Beneficiaries (B): menjelaskan siapa penerima manfaat dari program
  • Value Propositions (VP): menjelaskan apa nilai tambah yang diberikan program tersebut. Berbeda dengan VP pada bisnis yang berorientasi mengalahkan kompetitor, VP dalam MMC berorientasi untuk memberikan perbaikan dibandingkan VP yang sebelumnya.
  • Deployment (D): Menjelaskan bagaimana program tersebut disosialisasikan (agar beneficiaries sadar bahwa program tersebut ada) dan bagaimana cara beneficiaries mendapatkan program tersebut.
  • Buy-in & Support (BIS): Menjelaskan bagaimana agar program ini dapat terus didukung oleh beneficiaries dan dapat berjalan secara jangka panjang (program dapat berjalan secara sustainable.
  • Key Activities (KA): Aktivitas kunci yang harus dilakukan untuk menciptakan VP
  • Key Resources (KR): Sumber daya utama yang dibutuhkan untuk mendukung key activities.
  • Key Partners (KP): Pihak yang dapat membantu menciptakan VP dengan menambal kekurangan KR dan KA di dalam organisasi
  • Mission Budget/Cost (MB): Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan program tersebut
  • Mission Achievement / Impact Factors (MA): Indikator keberhasilan dari peluncuran program.

Dapat dilihat dari blok di atas bahwa ada sedikit perbedaan antara MMC dengan BMC. Utamanya perbedaan tersebut berada di bagian Customer Segments, yang berubah menjadi beneficiaries. Lalu ada channel yang berubah menjadi deployment. Kemudian ada customer relationship yang berubah menjadi Buy-in & Support. Lalu yang terakhir adalah revenue stream yang berubah menjadi Mission Achievement / Impact Factors.

Untuk memperjelas bagaimana mengisi MMC ini, maka berikut ini adalah studi kasusnya.

Studi Kasus Mission Model Canvas: SMART MAP PENDIDIKAN

Pada artikel ini saya mencontohkan dari pengalaman membantu instansi pemerintahan yang sedang mengadakan kompetisi inovasi untuk internal jajarannya. Mission Model Canvas ini adalah salah satu tools yang paling tepat apabila institusi non-profit ingin melakukan inovasi program, karena bloknya lebih relevan. Salah satu contoh studi kasus yang saya ambil adalah pengembangan Smart Map for Education yang menurut saya menjadi salah satu gagasan inovasi instansi pemerintahan yang keren di workshop tersebut.

Secara tulisan, konsep smart map untuk education ini sebenarnya cukup sederhana. Anggaplah di suatu Kota J, walikota nya memiliki visi untuk memberikan akses informasi yang akurat untuk warganya. Akses informasi ini berupa akses informasi geospasial yang berhubungan dengan serba – serbi dunia pendidikan yang ada di kota itu. Akses informasi ini bisa dilakukan melalui web-based di browser ataupun mobile apps. Sebagai contoh, jika warga di Kota J ingin mengetahui sebenarnya di Kotanya itu ada institusi pendidikan apa saja, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga Kampus Perguruan Tinggi, maka sistem tersebut akan menampilkan informasi secara akurat dan real time. Bukan hanya itu, bahkan smart map ini bisa menunjukkan hal lain yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan, seperti: Penyedia layanan edukasi non-formal, Wisata Edukasi, Musium, Toko-Toko Komersial Penunjang Pendidikan, Toko Buku, dan lain sebagainya. Konsep nya keren deh, pokoknya kalau untuk urusan belajar-mengajar maka warga tinggal mengakses smart map tersebut untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan.

Untuk memudahkan komunikasi dan visualisasi terkait dengan program di atas, maka MIssion Model Canvas ini dapat digunakan. Berikut ini adalah pengisian masing – masing blok dari MMC dengan studi kasus di atas ya. Bagi yang bingung tentang apa maksud dari blok yang ada di MMC, silakan bisa lihat penjelasan sebelumnya, ya!

Berikut kemudian cara pengisiannya.

Pertama, sebelum mengisi blok-bloknya, pastikan diisi terlebih dulu header dari MMC yang berisikan tentang: (1) Deskripsi Program; (2) Designed By; (3) Tanggal (Date); dan (4) Versi atau iterasi keberapa. Dalam studi kasus ini, saya memberikan contoh bahwa Deskripsi Program nya adalah (1) Smart City Map for Education; yang diisi oleh (2) Mas Andrianto; pada tanggal (3) 26 Juni 2023; dan (4) Iterasi pertama (versi 1.0).

Sebagai gambaran seperti apa Smart City Map dalam kasus ini, saya ingin mencontohkan smart maps GEOHUB seperti yang ada di Kota Los Angeles. Misalkan kita ingin mencari tahu apa saja sekolah formal yang ada di Kota tersebut, maka peta akan memunculkan 3,214 records terkait dengan tempat yang ingin kita cari tersebut, seperti gambar di bawah ini,

Mengenal Mission Model Canvas
Contoh ilustrasi Smart City Map Los Angeles (GEOHUB)
  • Beneficiaries: Penerima manfaat utama dari program ini adalah seluruh warga kota J yang sedang mencari informasi lokasi terkait dengan pendidikan di Kota J
  • Value Propositions: Informasi yang akurat, Menghemat waktu pencarian, Meningkatkan Produktivitas Warga, Informasi yang sangat lengkap
  • Deployment: Sosialisasi dengan Billboard, Media Massa, dan Media Sosial. Sementara akses dapat menggunakan Web-Based dan Mobile Apps.
  • Buy-in & Support: Co-Creation dengan warga (Warga ikut bersama melakukan kurasi dan menjaga akurasi peta), menambah fitur interaksi sosial (seperti fitur forum diskusi untuk memberikan feedback akurasi konten), live chat admin 24/7 (untuk support pengguna yang kebingungan)
  • Key Activities: Pengembangan platform, pembuatan aplikasi web-based, pembuatan mobile-apps. Pengumpulan dan validasi database lokasi pendidikan, Layanan Pengguna.
  • Key Resources: SDM Bertalenta, Uang Tunai, Server
  • Key Partners: Pengembang layanan Peta yang sudah ada (Untuk konsultasi pengembangan teknologi), Duta Pendidikan Kota (Untuk sosialisasi), Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi (untuk support pendanaan dan birokrasi administratif), Media Massa dan Media Elektronik (Untuk sosialisasi)
  • Mission Budget: Jumlah budget yang dibutuhkan. Misalnya: Development membutuhkan Rp5 miliar, dan Perawatan membutuhkan Rp200 juta per tahun
  • Mission Achievement / Impact Factors: Jumlah pengguna aktif harian, rasio keberhasilan orang yang menemukan tempat per total orang yang mencari tempat tersebut.

Dengan demikian, maka MMC yang sudah terisi akan memiliki bentuk / tampilan seperti berikut ini:

Mengenal Mission Model Canvas
Ilustrasi dari Mission Model Canvas yang telah terisi

Salah satu manfaat dari pengisian Mission Model Canvas ini yang saya rasakan adalah peserta (khususnya birokrat) menjadi tahu lebih detil tentang bagaimana program ini dapat dijalankan secara jangka panjang dan berkelanjutan. Seperti misalnya, dengan dipetakan dengan MMC, mereka menyadari bahwa ternyata selain development cost, juga ada maintenance cost yang harus ditanggung. Bagaimana kemudian maintenance cost ini dapat ditanggung, ketika misalnya dana APBD sudah tidak bisa digunakan lagi? Dari situ kemudian muncul diskusi – diskusi lanjutan yang akhirnya dapat membuat iterasi MMC berikutnya (versi 2), yang dapat diharapkan dapat dijalankan secara jangka panjang.

Demikian sharing saya kali ini tentang Mission Model Canvas. Semoga bermanfaat khususnya untuk lembaga non-profit yang saat ini sedang fokus menghasilkan program – program inovatif untuk beneficiaries nya.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi atau mengundang saya untuk membawakan workshop tentang Business Canvas, silakan kontak melalui email di arry(dot)rahmawan(at)gmail.com , atau hubungi channel social media saya, seperti di Instagram @ArryRahmawan atau Linkedin Arry Rahmawan.

Salam,
Arry Rahmawan