Menumbuhkan Produktivitas di Tahun Baru 2023 dengan Metode Rapid Planning Method (RPM)

Selamat tahun baru 2023 untuk sahabat pembaca Blog Arry Rahmawan. Saya berdoa semoga di tahun 2023 ini semua diberikan kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaan sepanjang tahun. Aamiin ya robbal ‘aalamiin. Sebelumnya mohon maaf ya jika saya mungkin sedikit terlambat untuk posting topik tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum tahun baru untuk membuat hidup kita lebih baik. Pada postingan di awal tahun ini, saya ingin berbagi sedikit tentang sebuah metode untuk menumbuhkan produktivitas di Tahun Baru 2023 yang siapa tahu cocok untuk diterapkan oleh sahabat pembaca semuanya.

Adapun metode peningkatan produktivitas hidup yang ingin saya bagikan adalah Metode RPM, atau dikenal dengan Metode Rapid Planning Method. Metode ini saya pelajari pada tahun 2021 lalu melalui program Time of Your Life (TOYL) yang dibawakan oleh Tony Robbins. Metode ini menurut saya cukup bagus untuk menambah wawasan kita terkait dengan bagaimana meningkatkan produktivitas hidup, dan merupakan salah satu teknik andalan saya untuk meningkatkan produktivitas hidup saya.

Apa itu RPM dan Apa Filosofinya?

RPM merupakan singkatan dari Rapid Planning Method, di mana merupakan pengembangan lanjutan dari teknik to-do list yang sudah kita kenal saat ini. Beberapa waktu lalu, saya sempat posting terkait teknik sederhana untuk menumbuhkan produktivitas, yaitu dengan menggunakan to-do list classic di mana kita menuliskan 10 hal yang harus kita kerjakan di hari ini, mengurutkannya sesuai prioritas dari 1-10, lalu mengerjakannya satu per satu. RPM merupakan pengembangan dari teknik ini. RPM mengkritisi bahwa menuliskan list saja tidak cukup, tetapi harus align dengan apa yang sebenarnya kita ingin kerjakan. Karena bisa jadi, list – list harian yang kita punya sangat banyak, tetapi tidak ada satu pun list yang sebenarnya mendekatkan kita pada hasil / outcome yang kita inginkan.

Maka dari itu, metode RPM mencoba untuk bertanya 3 hal, ketika seseorang membuat to-do list:

  • Result (R): Apa sebenarnya outcome yang ingin kita dapatkan? Apa sebenarnya hal konkrit yang sedang ingin kita wujudkan?
  • Purpose (P): Apa tujuan dari kita mengejar outcome tersebut? Why atau mengapa kita menetapkan hal tersebut sebagai outcome?
  • Massive Action (M): Apa langkah – langkah nyata yang harus kita lakukan di hari ini untuk menghasilkan outcome tersebut? Mana aktivitas yang harus saya lakukan sendiri dan mana aktivitas yang bisa saya delegasikan kepada orang lain agar dapat menjadi lebih efektif? Massive action inilah sebenarnya yang merupakan poin-poin to-do list yang kita lakukan sehari – hari.

Perbedaan RPM dengan to-do list yang klasik terletak pada unsur RP, yang membuat kita fokus kembali tentang apa result yang kita inginkan dan mengapa result itu ingin kita kejar. Seorang yang hanya fokus pada Massive Action, tanpa mempertimbangkan R dan P, bisa jadi mengerjakan sesuatu karena takut kepada orang lain, merasa tidak enak pada orang lain, yang membuat apa yang sebenarnya kita ingin tuju tidak kunjung tercapai karena kita tidak fokus dengan R dan P tersebut. Tony Robbins juga berargumen bahwa kurangnya aspek R dan P dalam menulis resolusi tahun baru, menyebabkan resolusi tersebut hanya hangat di awal tahun namun terlupakan seiring tahun tersebut berjalan.

Bagaimana Mengaplikasikan Teknik RPM ini?

Lalu bagaimana kita mengaplikasikan Teknik RPM ini? Mengaplikasikannya mirip dengan menggunakan to-do list, yaitu dengan menuliskan apa yang ingin kita lakukan di hari tersebut. Namun, pastikan bahwa to-do list yang kita miliki berasal dari R dan P yang kita anggap penting. Berikut ini worksheet to-do list harian yang dirancang oleh Tony Robbins,

Ilustrasi Worksheet pada RPM (Rapid Planning Method) – Credit: Time of Your Life by Tony Robbins

Selain kolom RPM, ada 3 tambahan kolom lain yaitu Leverage (L), Duration (D), dan Priority (P). Konsep LDP ini berguna kalau kita sudah mengisi Massive Action Plan dalam worksheet tersebut, sehingga kita dapat menentukan mana action plan yang ingin kita delegasikan (Leverage), berapa lama durasi yang dibutuhkan (Duration) dan aktivitas tersebut ada di prioritas ke berapa (Priority).

Untuk membuatnya lebih jelas, saya akan mencontohkan bagaimana menggunakan RPM sheet ini untuk menghasilkan artikel RPM yang saya tulis ini.

llustrasi bagaimana saya menggunakan RPM untuk menunjang produktivitas saya

Contoh di atas adalah bagaimana saya menggunakan RPM untuk membantu saya menerbitkan 1 artikel produktivitas hidup di awal tahun 2023. Di tengah kesibukan saya mengerjakan disertasi dan riset PhD, tentu saja mudah bagi saya melewatkan target ini karena toh tidak ada yang mewajibkan. Namun, dalam hati saya yang paling dalam, saya merasa bahwa feeling saya mengatakan banyak yang bisa jadi memerlukan metode RPM ini. Pada worksheet di atas, saya sedikit memodifikasi di bagian result, selain menuliskan outcome apa yang saya inginkan, saya juga menuliskan kapan deadline atau tenggat waktu saya harus mendapatkan outcome tersebut. Hal ini juga berguna kalau misalnya saya memiliki project yang result nya masih lama untuk saya selesaikan, saya tuliskan kapan deadline nya. Setelah itu baru saya menulis massive action plan yang perlu saya lakukan. Bagian durasi menurut saya sangat berguna sekali untuk memperkirakan berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk melakukan blocking di jadwal saya untuk menulis. Dengan memperkirakan bahwa waktu yang dibutuhkan sekitar 165 menit, maka saya perlu blocking waktu sekitar kurang lebih 2,5 jam untuk menyelesaikan 1 artikel ini.

Demikian artikel yang dapat saya bagikan sebagai pembuka di awal tahun 2023 ini. Semoga metode RPM ini bisa bermanfaat dan ada dari sahabat semua yang merasa cocok menggunakan metode RPM ini dalam mendongkrak produktivitas nya. Apabila ada feedback, masukan, saran, atau bahkan pengalaman setelah mencoba teknik ini, maka silakan sampaikan saja melalui kotak komentar di bawah.

Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan