Bagaimana menumbuhkan self-motivation dalam diri

Bagaimana Cara Menumbuhkan Self-Motivation?

Apakah Anda pernah bertanya mengapa ada orang yang begitu bersemangat secara konsisten untuk terus belajar dan mengembangkan diri, sementara banyak orang lainnya yang begitu malas untuk mengejar sesuatu? Atau mungkin Anda sendiri pernah mengalami, ketika di awal tahun menuliskan banyak sekali resolusi dengan menggebu – gebu namun pada mau action malah tidak ada semangat sama sekali? Hal tersebut adalah tanda – tanda Anda kekurangan yang namanya Self-Motivation. Tahukah Anda bagaimana cara menumbuhkan Self-Motivation?

Self-Motivation didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri dalam mengambil inisiatif dan tindakan untuk mengejar goals atau tugas yang sudah ditetapkan. Dalam beberapa kali sesi seminar atau workshop tentang produktivitas hidup yang saya bawakan, salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan peserta adalah, “Bang, gimana sih caranya biar bisa konsisten nge-blog begitu selama bertahun – tahun, bahkan saya baru nge-blog seminggu aja udah ilang semangatnya.” Pertanyaan lain dengan nada sama juga sering saya terima, seperti “Gimana bang caranya agar konsisten ini dan itu…”, yang pada intinya sebenarnya menjaga agar diri kita tetap istiqomah dan konsisten untuk bertindak. Daan…. yang mempengaruhi itu semua ya Self-Motivation kita.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya biasa menggunaan catatan belajar yang saya dapatkan dari Tchiki Davis, PhD, yaitu seorang pakar motivasi yang banyak menulis dan meneliti tentang Self-Motivation manusia.

Dalam artikelnya berjudul Science-Based Tips to Boost Self Motivation, terdapat 7 trait atau karakter yang terdapat pada orang – orang dengan self-motivation yang tinggi. Kedelapan trait tersebut adalah:

  1. Initiative–Minded: Dorongan untuk melakukan sesuatu sebelum dilakukan oleh orang lain, dapat berupa ingin menjadi contoh atau ingin menjadi yang terdepan
  2. Drive to achieve: Dorongan untuk menuntaskan dan mendapatkan sesuatu, seperti prestasi, capaian, uang, jabatan, pengakuan. Bahasa jaman sekarangnya ‘ambisss’
  3. Commitment to goals: Memberikan kinerja terbaik dan sekeras mungkin untuk menuju goals yang telah ditetapkan karena memiliki alasan yang jelas
  4. Passion for work: Kesenangan atau enjoyment dalam melakukan pekerjaan tersebut
  5. Desire to Improve: Dorongan untuk membuat hidup terus bertumbuh agar terus menjadi lebih baik
  6. Self-Efficacy: Keyakinan bahwa diri sendiri memiliki kapasitas yang cukup untuk mencapai hasil yang diinginkan
  7. Eagerness: Keinginan untuk belajar dan mencoba hal atau tantangan yang baru

Maka secara teori, untuk dapat meningkatkan Self-Motivation, kita perlu meningkatkan beberapa atau bahkan seluruh trait tersebut dalam diri kita. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan memperbaiki goal-setting yang kita tetapkan. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dicoba untuk memperbaiki goal-setting menurut Dr. Jen Zamzow dari Concordia University Irvine:

  1. Memiliki reasoning yang jelas dari setiap goals yang disetting. Mereka yang memiliki self-motivation yang tinggi selalu mampu menjawab mengapa mereka ingin mencapai result tersebut. Hal ini membuat apa yang dikerjakan menjadi fulfilling, karena mereka tahu mengapa harus mencapainya. Menetapkan goal setting ingin menjadi kaya, menjadi konten kreator sukses dengan jutaan follower, belum cukup memotivasi jika belum mampu menjawab, “mengapa saya harus mencapai hal tersebut?”. Berdasarkan pengalaman saya dengan klien, pola paling umum dari jawaban pertanyaan tersebut adalah: untuk menumbuhkan kapasitas diri, agar bisa bermanfaat dengan lebih luas bagi banyak orang (sosial), sebagai upaya untuk bersyukur kepada Tuhan dan mempersiapkan amal kebaikan sebelum kematian (spiritual – bagi klien yang beriman). Mereka yang memiliki self-motivation yang rendah umumnya melakukan goal setting dikarenakan tidak memiliki alasan kuat mengapa harus menuntaskannya. Strategi ini juga didukung oleh hasil riset dari Tony Robbins dalam programnya Time of Your Life, yang menghasilkan metode RPM untuk meningkatkan produktivitas hidup. Selengkapnya baca artikelnya di tautan ini.
  2. Mengetahui bahwa tingkat kesulitan yang dibutuhkan untuk mencapai goals tersebut realistis. Nohria et al. (2008) mengatakan bahwa salah satu yang dapat membuat kita semangat untuk melakukan sesuatu adalah ketika tingkat kesulitan yang diset dalam goals kita berada dalam sweet spot, artinya not too hard, but not too easy. Jadi tingkat kesulitannya pas berada di antaranya. Maka untuk mengetahui seberapa realistis goals yang telah dibuat, kita perlu melakukan assessment berapa besar waktu, uang, perhatian, usaha, hingga kapasitas kompetensi yang dibutuhkan untuk meraih goals tersebut agar kita sadar apakah realistis atau tidak.
  3. Siap membayar goals dengan pengorbanan. Setelah di strategi 2 kita menganggap bahwa goals tersebut realistis, maka pertanyaan berikutnya adalah seberapa jauh pengorbanan yang bisa kita berikan? Pengorbanan di sini lebih ke arah mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu yang ‘lebih’ dibandingkan orang lain yang tidak memiliki goal tersebut. Misalnya seorang konten kreator yang ingin sukses harus mengorbankan sedikit weekend nya untuk taping content di saat orang lain libur. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah dengan membuat semacam catatan atau kontrak komitmen bahwa kita siap membayar harga untuk goals tersebut. Kalau perlu difigura terus pajang deh di kamar.
  4. Start Small Habit – Membiasakan Eksekusi Target Sekecil Mungkin. Salah satu cara untuk mendorong kita mengerjakan sesuatu adalah dengan memecah goals kita menjadi paket – paket kecil yang dapat dieksekusi sesegera mungkin. Seperti yang ditulis oleh BJ Fogg dalam bukunya Tiny Habits, hasil yang besar berawal dari mengeksekusi sesuatu yang kecil, sedikit-demi sedikit, hingga akhirnya mengeksekusi to-do list menjadi sebuah kebiasaan dan self-motivation menjadi terbentuk dengan sendirinya.
  5. Mengingat kematian yang bisa datang sewaktu-waktu. Dr. Steeve Taylor dalam bukunya Out of the Darkness mewawancara beragam pasien yang koma atau dijatuhi vonis akan mati sebentar lagi, menemukan adanya perubahan signifikan terhadap orang tersebut. Mereka menjadi hidup lebih bersyukur, positif, dan selalu dalam upaya memelihara self-motivation yang tertinggi untuk berbuat baik kepada sesama. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW 1400 tahun lalu, “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, maka mereka itulah orang yang cerdas, di mana mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (HR. Ibnu Majah). Terbesit dari pesan Rasul tersebut bahwa orang yang senantiasa ingat mati akan meningkat self-motivation nya untuk beramal di dunia dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi kematiannya. Buat saya, strategi kelima ini adalah yang paling ampuh dan efektif untuk membuat saya senantiasa bergerak dan beramal, bahkan dalam kondisi yang paling malas sekalipun.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang bagaimana cara untuk menumbuhkan Self-Motivation. Semoga bermanfaat untuk sahabat semua yang saat ini sedang mencari cara agar terus bersemangat dalam hidup yang lebih bertumbuh dan produktif dari sebelumnya.

Salam,
Arry Rahmawan