Konsep dan Aplikasi Business Model Canvas untuk UMKM – Studi Kasus Keripik Tape Singkong

Apakah Anda sedang mencari contoh konsep dan aplikasi Business Model Canvas untuk UMKM, bahkan dalam skala mikro? Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana penerapan Business Model Canvas pada sektor UMKM, dengan studi kasus di industri keripik tape singkong. Saya terdorong untuk menulis ini setelah diminta menjadi narasumber oleh NGO di Jakarta untuk melatih para fasilitator pendamping pelaku UMKM wanita di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Saya jadi teringat pada tahun 2018 lalu, saya juga pernah mendampingi beberapa UMKM dalam menerapkan BMC untuk inovasi bisnis mereka.  Dari pengalaman tersebut, saya melihat Business Model Canvas (atau yang juga dikenal dengan BMC) memiliki peluang untuk membantu menumbuhkan berbagai macam UMKM, selain tentu saja perusahaan besar atau korporat yang biasa saya tangani.

Dalam artikel ini, saya membaginya dalam 2 bagian:

  1. Apa dan Mengapa menggunakan Business Model Canvas?
  2. Bagaimana menggunakan Business Model Canvas untuk UMKM?

Apa dan Mengapa menggunakan Business Model Canvas?

Sejak tahun 2012 lalu, saya sudah banyak sekali menulis artikel terkait dengan BMC. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Business Model Canvas, silakan bisa cek tulisan saya tentang Panduan Singkat Business Model Canvas.

Namun bagi yang belum membacanya, BMC merupakan alat bantu bisnis yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder, seorang business theorist asal Swiss pada tahun 2010. Latar belakang pembuatan BMC pada waktu itu adalah tidak adanya alat bantu yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan model bisnis secara sederhana, namun tetap powerful. Model bisnis di sini diartikan sebagai bagaimana sebuah bisnis bekerja, yang menunjukkan bagaimana bisnis menawarkan value dan mendapatkan keuntungan.

Pada waktu itu, seorang pebisnis yang ingin menjelaskan model bisnis sangat bertele – tele, tidak to the point, dan bahkan menggunakan laporan atau dokumen yang sangat tebal hanya untuk menjelaskan apa itu model bisnis kepada orang lain.

Jadilah Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur melakukan riset untuk menjawab, ‘aspek apa saja yang paling penting untuk menjelaskan model bisnis?’. Dengan melakukan survey, interview, dan konsultasi dengan berbagai expert, maka lahirlah Business Model Canvas yang dikenal memiliki 9 blok untuk membantu para eksekutif untuk menjelaskan model bisnisnya dengan lebih mudah dan efektif.

Aplikasi business model canvas untuk UMKM
BMC merupakan hasil riset untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengkomunikasikan model bisnis dengan lebih efektif dan efisien

Adapun BMC ini memiliki 9 bagian, yang sudah saya jelaskan dengan lebih detil pada artikel saya di tautan berikut ini. Pada artikel itu, saya menjelaskan dengan lebih rinci apa maksud dan arti dari masing – masing bloknya. Namun, bagi sahabat pembaca yang belum pernah membacanya, saya akan memberikan gambaran singkat terkait dengan 9 blok tersebut. Intinya sangat sederhana, seperti yang bisa dilihat pada gambar berikut ini,

Panduan Lengkap Business Model Canvas
Blok utama pada Business Model Canvas

Untuk menggunakan Business Model Canvas, Anda hanya cukup untuk menjawab pertanyaan pada blok-blok di atas. Misalkan, pada bagian customer segment, pengisiannya dapat berupa jawaban dari pertanyaan: “Siapa target konsumen yang akan menggunakan produk / jasa saya?”. Dan untuk blok yang lain dapat menggunakan pertanyaan pemicu seperti contoh gambar berikut ini,

Aplikasi Business Model Canvas (BMC) untuk UMKM
Pertanyaan pemicu untuk mengisi blok Business Model Canvas (BMC)

Lalu, apa manfaat dari menggunakan BMC ini? Menurut Alexander Osterwalder, tujuan utama menggunakan BMC ini adalah untuk memudahkan komunikasi dan visualisasi model bisnis. Sehingga, dengan kemudahan tersebut dapat membuka berbagai macam peluang kolaborasi dan inovasi bisnis yang akan membuat bisnis tersebut berkelanjutan.

Bagaimana Aplikasi Business Model Canvas untuk UMKM?

Untuk menggunakan BMC dalam sektor UMKM, salah satu prinsip utama yang saya rekomendasikan adalah “Keep it simple”. Pada buku aslinya, Business Model Generation, teori tentang BMC ini sebenarnya sangat dalam dan kompleks. Namun, berdasarkan pengalaman saya, hal yang paling penting saat menerapkan BMC untuk UMKM adalah membuatnya sesimpel mungkin.

Berikut ini adalah gambaran saat saya sedang menjadi fasilitator untuk pelatihan Business Model Canvas untuk UMKM,

Dokumentasi sewaktu saya menjadi fasilitator untuk Pelaku UMKM di Indonesia

Kali ini, saya akan mencoba mendemonstrasikan bagaimana mengaplikasikan BMC untuk konteks UMKM, walaupun. pada saat pembuatannya, BMC ini lebih banyak digunakan untuk korporat.

Studi Kasus Penerapan BMC di UMKM: Keripik Tape Singkong

Pada artikel kali ini saya akan coba mendemonstrasikan bagaimana menerapkan BMC pada konteks UMKM dengan jenis produk “Keripik Tape Singkong” dengan brand KERTAS (bukan brand sebenarnya). KERTAS ini secara umum di daerah Sunda atau Bandung juga dikenal sebagai Keripik Peuyeum yang merupakan sejenis camilan olahan dari peuyeum singkong.

Ilustrasi gambar keripik tape singkong

Kasus Demo ini berdasarkan pada pengalaman saya saat menjadi konsultan UMKM pada tahun 2018 lalu.

Saat menjadi fasilitator BMC untuk UMKM, maka tugas saya adalah membantu peserta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di atas.

Sebelum mengisi BMC, biasanya saya meminta klien untuk mengisi di bagian atas BMC dua keterangan: BMC ini didesain untuk apa dan siapa yang merancangnya. Setelah diisi, maka barulah mengisi bagian blok utamanya.

  • Customer Segment (siapa target pengguna / konsumen dari keripik tape ini?)

Jawaban: tadinya klien saya menjawab target konsumennya adalah ‘semua orang’, ‘orang tua penyuka cemilan’ , dan ‘anak muda yang ingin cemilan sehat.’ Jawaban seperti ini saya temui di hampir 85% klien saya saat pertama kali mengisi BMC. Apakah tidak boleh? Tentu boleh, namun kebayang kan jika 85-90% orang menjawab hal yang sama, maka klien saya akan bersaing di ceruk yang sama dan persaingan akan sangat berdarah-darah. Sehingga saya memberikan masukan bagaimana jika menarget konsumen berdasarkan ‘aktivitas’ mereka. Maka lahirlah dua jawaban yang menurut saya cukup unik pada waktu itu: (1) Wisatawan dan (2) Pencari hampers / hadiah. Sehingga pada BMC diisi dua segmen konsumen, yaitu wisatawan (sticky notes hijau) dan pencari hampers (sticky notes biru).

  • Value propositions (apa keunggulan produk/jasa nya dibandingkan dengan yang sudah ada?)

Jawaban: Klien saya menggunakan sticky notes kuning, yang artinya adalah bahwa value tersebut untuk kedua segmen, baik segmen wisatawan dan segmen pencari hampers. Terdapat 5 value yang diisi oleh klien saya: (1) Lezat, memiliki 5 varian rasa; (2) pengalaman unik, karena merupakan oleh -oleh khas; (3) Sehat, karena terbuat dari bahan alami; (4) tahan lama & tetap kriuk, jadi bisa lama disimpan; (5) Ramah lingkungan, menggunakan packaging yang tidak merusak lingkungan. Kesemua ini ditulis dalam sticky notes kuning pada bagian value proposition.

  • Channels (Bagaimana promosi dan distribusinya?)

Jawaban: Di sini klien saya membedakan jawaban untuk segmen wisatawan dengan pencari hampers. Untuk segmen wisatawan maka cara distribusinya adalah melalui (1) toko ritel oleh – oleh di Bandung (menggunakan warna hijau yang sama dengan segmen wisatawan) dan (2) Online shop (untuk segmen pencari hampers).

  • Customer relationships (Bagaimana agar konsumen membeli lagi?)

Jawaban: Klien saya menjawab untuk kedua segmen yaitu: (1) Paket diskon untuk konsumen yang berulang tahun; (2) Diskon lebaran / hari besar.

  • Key Activities (Apa aktivitas terpenting untuk menciptakan value?)

Jawaban: Untuk menciptakan value seperti yang telah disebutkan, jawaban klien saya adalah: (1) Memilih dan menyeleksi suplier tape singkong; (2) Proses membuat keripik itu sendiri; (3) Packaging keripik; (4) Marketing atau promosi; (5) Riset, survey, atau inovasi produk agar berkelanjutan

  • Key Resources (Apa sumber daya terpenting dalam bisnis untuk menciptakan value?)

Jawaban: Untuk mendukung aktivitas produksi, maka produk keripik tape singkong ini memerlukan: (1) Mesin/alat produksi keripik; (2) Alat packaging keripik; (3) Tempat proses produksi; (4) Gadget – Handphone/Laptop; (5) Koneksi internet yang stabil.

  • Key Partners (Siapa rekanan terpenting untuk mendukung ketersediaan aktivitas / sumber daya?)

Jawaban: Untuk mendukung kelancaran aktivitas dalam menciptakan value atau menambal kekurangan sumber daya, maka salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan berkolaborasi bersama Key Partners. Terdapat 3 key partners yang disebut oleh klien saya: (1) Supplier Tape Singkong, untuk memastikan pasokan tape nya aman dengan mutu berkualitas; (2) Influence/selebgram/youtuber, yang diharapkan dapat bekerjasama untuk mendongkrak penjualan dari keripik ini, dan (3) adalah Media massa lokal / regional untuk menambah exposure agar keripik ini semakin dikenal luas di masyarakat.

  • Cost Structure (Apa saja variabel biaya yang harus dihitung dalam bisnis ini untuk memperoleh keuntungan?)

Jawaban: Variabel biaya dalam setiap bisnis tentu saja berbeda, tergantung dari jenis bisnis itu sendiri. Salah satu cara mudah untuk menemukan faktor biaya apa saja yang perlu dipertimbangkan adalah dengan melihat apa saja aktivitas kunci dan sumber daya yang dibutuhkan dalam bisnis. Dalam konteks ini, beberapa variabel biaya yang dapat dipertimbangkan adalah: (1) Sewa tempat produksi; (2) Biaya pengadaan alat / mesin; (3) Biaya pokok produksi; (4) Biaya pengadaan gadget; (5) Biaya internet bulanan; dan (6) Biaya riset dan pengembangan produk.

  • Revenue Stream (Darimana saja asal pendapat bisnis?)

Jawaban: Industri UMKM keripik seperti ini umumnya memiliki pendapatan dari hasil jualan keripik per bungkus. Namun, karena segmen pelanggan yang ditarget lebih detil, maka pendapatan yang mengalir ke kas berupa: (1) Penjualan kemasan 250 g; (2) Penjualan kemasan 500 g; (3) Paket hampers A (Rp200,000); dan (4) Penjualan paket hampers B (Rp250,000).

Merangkum dari jawaban kesembilan blok di atas, berikut ini adalah Business Model Canvas yang sudah terisi dari UMKM Keripik Tape Singkong KERTAS yang diisi menggunakan Google Jamboard,

#image_title

Apa pelajaran yang dapat diambil dari BMC yang sudah terisi di atas? Sesuai dengan tujuan penciptaan BMC, yaitu memudahkan komunikasi model bisnis keripik ini. Hal tersebut terbukti saat klien saya maju mempresentasikan model bisnis ini ke beberapa investor untuk mendapatkan dana tambahan atau pitching ke key partner agar tercipta kerjasama yang lebih langgeng.

Demikian artikel tentang apa itu BMC dan bagaimana menerapkannya dalam konteks UMKM. Semoga bermanfaat untuk sahabat pembaca semua khususnya yang sedang mencari cara bagaimana menggunakan BMC ini untuk bisnis UMKM yang saat ini sedang dirintis.

Ingin mengundang saya terkait seminar / workshop pengembangan bisnis dengan menggunakan BMC? Silakan kontak saja via Instagram @ArryRahmawan atau Email di arry (dot) rahmawan (at) gmail.com.

Salam,
Arry Rahmawan