Kajian Islam Istiqomah sebagai Muslim Minoritas di Eropa

Kajian Islam Istiqomah sebagai Minoritas Muslim di Eropa – SAMPUL Keluarga Muslim Delft (KMD)

Alhamdulillaah pada tanggal 14 Januari 2023 lalu, saya berkesempatan untuk berbagi mengenai keutamaan dan strategi agar tetapi istiqomah sebagai Minoritas Muslim, di negeri yang sebagian besar penduduknya adalah non-Muslim. Acara ini diselenggarakan oleh Keluarga Muslim Delft, yaitu komunitas Muslim Kota Delft, tempat saya menimba ilmu saat ini. Nama acara yang diselenggarakan adalah Kajian Islam Istiqomah sebagai Minoritas Muslim di Eropa yang dikemas dalam program SAMPUL KMD, yang merupakan kepanjangan dari “Sambil Makan Kumpul – Kumpul”.

Topik yang diminta terkait dengan “Istiqomah sebagai Minoritas Muslim” ini tentu menjadi topik yang penting untuk dibahas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kalau kita memutuskan untuk menetap atau menuntut ilmu di negeri mayoritas muslim, ada banyak sekali tantangan – tantangan yang akan dihadapi. Tantangan ini umumnya terkait dengan 3 hal: mempraktikkan ritual agama, pemilihan makanan, beserta pergaulan. Dibandingkan dengan Indonesia, tinggal di negeri mayoritas non-muslim tentu akan lebih sulit untuk melaksanakan shalat berjamaah atau bahkan shalat Jumat, mengingat jumlah masjid yang sangat terbatas. Selain itu, mencari makanan halal bisa menjadi tantangan tersendiri. Mengingat di dalam Islam, salah satu cara memastikan kehalalan adalah bukan hanya memastikan bukan hanya non-pork atau non-alcohol, tetapi juga disembelih atas nama Allah SWT (bisa dicek pada QS. Al-Maidah:3).

Maka dari itu, menurut hasil kajian dari Elfrida (2013) tentang bagaimana menjadi muslim di Eropa, dengan mengambil studi kasus di Freiburg, Jerman, terdapat 3 pola dasar bentuk adaptasi Muslim di Eropa. Studi tersebut diambil bukan hanya dari Muslim Indonesia, tetapi juga Muslim – muslim yang kebanyakan merupakan migran dari Afrika atau Timur Tengah.

Pertama adalah dengan tetap berelasi dengan masyarakat Non-Muslim namun dengan mengorbankan nilai-nilai Islam yang mereka miliki. Sebagai contohnya adalah melihat halal-haram bukan lagi sebuah kewajiban untuk menunaikan, tetapi adalah pilihan pribadi masing – masing. Contohnya, tidak masalah makan apapun selama esensinya bukan babi, walaupun disembelih tidak atas nama Allah atau menggunakan zat – zat yang diharamkan lainnya. Begitu pula dengan pergeseran terkait minuman beralkohol. Dari yang tadinya merupakan kewajiban untuk mengindarinya, berubah menjadi “tidak masalah minum alkohol, selama tidak memabukkan”. Ini adalah contoh adaptasi dengan berupaya melebur dengan membiarkan nilai islam menjadi rapuh (Elfrida, 2013).

Kedua adalah muslim yang menghindari hubungan atau interaksi dengan non-Muslim demi tegaknya nilai dan ajaran Islam di dalam diri. Ciri adaptasi muslim golongan kedua ini umumnya berupaya untuk mencari Komunitas muslim di negara tersebut, dan berupaya menyibukkan diri dan berinteraksi hanya kepada komunitas muslim tersebut untuk menjaga dirinya. Sementara golongan yang ketiga adalah Muslim yang menjaga keseimbangan dengan tetap berinteraksi dengan non-Muslim namun juga mempertahankan nilai dan ajaran Islam di dalam diri. Bagi yang berada di golongan ini dapat tetap menjalankan prinsip, sekalipun berinteraksi dengan lingkungan yang mayoritas non-muslim.

Dalam kajian tersebut, saya sedikit berbagi tentang apa yang saya ketahui agar kita bisa menjadi golongan muslim yang ketiga. Untuk golongan pertama, tentu perlu kita hindari sebisa mungkin, kecuali apabila kita berada dalam keadaan darurat (contoh, memakan sesuatu yang belum jelas halal-haramnya karena memang sudah tidak ada alternatif sama sekali dan jika tidak memakannya maka kita akan mengalami suatu dampak yang sangat buruk). Bagi golongan kedua, tentu tidak bijaksana karena dengan alasan kita ingin menjaga keislaman, namun malah membuat diri kita terisolasi sama sekali dari lingkungan kerja atau kolega kita. Padahal Allah SWT juga berpesan bahwa sebenarnya Islam itu adalah umat yang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya rahmat bagi sesama Muslim (QS. Ali-Imran: 110). Sehingga, pilihan terbaik tentu jatuh di pilihan menjadi muslim yang ketiga, di mana kita tetap dapat berinteraksi dengan banyak orang non-muslim namun juga tetap menjaga nilai-nilai keislaman yang dimiliki.

Maka pada tanggal 14 Januari 2023 lalu, alhamdulillaah saya berkesempatan memaparkan bebeerapa hal yang sudah saya pelajari terkait dengan menjaga agar diri tetap istiqomah walaupun di tempat bermayoritas non-muslim. Pada acara tersebut, saya membagikan beberapa perspektif tentang apa dan mengapa istiqomah itu penting, serta beragam strategi praktis yang dapat digunakan untuk tetap istiqomah dalam berislam walaupun berada di negeri non-muslim sekalipun.

Membawakan Tausiyah “Istiqomah sebagai Minoritas di Eropa” dalam SAMPUL KMD (Sumber: Instagram KMD Belanda)

Acara berlangsung dengan sangat baik, lancar, dan dihadiri oleh banyak warga Indonesia di Delft, baik yang sedang menempuh studi ataupun yang sudah lama menetap di sana. Acara berlangsung dengan sangat kekeluargaan, dan setelah sesi tausiyah singkat berlangsung, acara berlangsung ke makan-makan! Alhamdulillaah senang sekali masih bisa mendapatkan kesempatan untuk berbagi. Adapun materi yang saya bawakan dalam acara SAMPUL KMD ini akan saya bagikan pada artikel berikutnya, agar manfaat yang dirasakan dari materi tersebut bisa semakin meluas.

Peserta yang hadir dalam SAMPUL Komunitas Muslim Delft (Sumber: Instagram KMD)

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi pada kesempatan tausiyah berikutnya, insyaAllah.

Salam,
Arry Rahmawan