Pada artikel kali ini saya ingin menuliskan kembali terkait materi yang saya bawakan di Komunitas Muslim Delft (KMD) pada Bulan Januari lalu. Di kesempatan tersebut, saya membawakan materi tentang bagaimana caranya agar kita dapat senantiasa menjaga keistiqomahan dalam menjalankan Islam, walaupun kita berada sebagai minoritas di negara yang mayoritasnya bukan Muslim. Materi tentang menjaga istiqomah tersebut saya tuliskan kembali di blog ini, karena siapa tahu relevan dan bisa bermanfaat untuk pembaca yang lebih luas.
Siapa di antara kita yang memiliki masalah istiqomah dalam beramal? Banyak di antara kira mungkin sering mendengar kata istiqomah ini. Banyak juga dari kita yang mungkin sudah berdoa agar senantiasa istiqomah kalau sudah mulai berbuat baik. Kita berharap istiqomah dalam artian bisa konsisten dan terus – menerus untuk berbuat kebaikan dari yang sudah kita lakukan. Masalahnya, tetap istiqomah ini adalah hal yang sangat sulit untuk dipraktikkan. Tetap konsisten, sabar, dan terus-menerus berbuat kebaikan tentu bukan perkara yang mudah.
Secara etimologi, istiqomah terdiri dari dua kata. Pertama adalah ista (usaha), dan qamah (tegak). Sehingga dapat diartikan bahwa istiqomah ini artinya adalah usaha sungguh – sungguh untuk menegakkan sesuatu. Dalam Islam, urgensi tentang istiqomah ini sendiri sudah Allah SWT sampaikan langsung melalui QS. Hud: 112,
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Arahan atau perintah untuk istiqomah ini ternyata sudah langsung Allah SWT turunkan kepada kita langsung. Allah berfirman bahwa kalau misal kita sudah berbuat baik, memiliki suatu hal yang positif, dan berada di jalan yang benar, maka tetaplah tegak lurus di jalan tersebut. Lalu apa sebenarnya dapampak apabila kita mengikuti petunjuk Allah SWT di atas? Apa yang akan kita dapatkan dengan bersusah payah agar istiqomah?
Ternyata ganjaran bagi orang – orang yang istiqomah ini pun sangat luar biasa. Dalam QS. Al-Ahqaaf: 13, Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan Kami ialah Allah SWT”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka berduka cita/bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaaf: 13). MasyaaAllaah, ternyata sudah Allah jamin juga bahwa barangsiapa di antara kita senantiasa berupaya untuk tetap tegak lurus dalam menjalankan Islam atau ketika sudah berada di jalan yang benar, maka Allah akan memberikan kita rasa bahagia dan dihindarikan dari rasa berduka cita / bersedih hati.
Lalu, bagaimana caranya ya agar kita bisa senantiasa istiqomah dalam beramal? Kalau saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman atau peserta seminar yang bertanya, “eh gimana sih caranya elo kok bisa terus-terusan nulis di blog bertahun – tahun?” Berikut ini adalah jawaban sekaligus materi yang saya berikan sewaktu di forum Komunitas Muslim Delft kemarin.
Ada 3 hal utama yang saya pelajari dari Quran dan Hadits tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan ke istiqomahan kita dalam beramal.
#1: Mengetahui syarat diterimanya amal
Sebelum kita mulai mengencangkan amal dan juga istiqomah di dalamnya, maka hal pertama yang perlu kita pelajari adalah mengetahui syarat diterimanya amal. Mengetahui syarat diterimanya amal ini sangat penting untuk mencegah amal ibadah yang sudah kita lakukan mati-matian nanti ternyata malah tidak diterima.
Dalam Qs. Al-Kahfi:110, Allah SWT telah memberikan jawaban sebagai syarat diterimanya amal ibadah,
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengarap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh (sesuai tuntunan) dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Bagian yang saya berikan tanda tebal pada ayat di atas merupakan syarat diterimanya amal. Pertama, beramal itu haruslah menggunakan ilmu atau sesuai tuntunan. Untuk ibadah yang sifatnya langsung terkoneksi dengan Allah SWT, pada dasarnya adalah diharamkan, sampai ada perintah atau tuntunan yang jelas di dalamnya. Sementara untuk yang sifatnya beramal baik kepada sesama manusia, hukumnya adalah dibolehkan, hingga terdapat ayat atau dalil yang jelas – jelas melarangnya. Sehingga di sini, kalau kita ingin semakin memperkuat amalan – amalan ibadah kita yang terkoneksi dengan Allah SWT, maka kita wajib berhati-hati dan memastikan bahwa semua sesuai dengan tuntunan. Namun untuk beramal yang terkait menjadi rahmat dan manfaat bagi semesta alam, terbuka sebesar – besarnya kebaikan sampai ada yang melarangnya. Ini adalah syarat yang pertama.
Syarat yang kedua adalah dengan tidak mempersekutukan Allah dalam beribadah. Dalam artian bahwa apa ibadah atau amal baik yang kita lakukan tidak lain tidak bukan kita hanya persembahkan kepada Allah SWT. Saya pernah menulis khusus tentang syarat diterimanya amal ini pada tulisan saya tentang Pilar Produktivitas Seorang Muslim.
Setelah kita mengetahui syarat diterimanya amal, maka insyaAllaah kita akan menjadi semakin tergerak untuk istiqomah dalam aktivitas kebaikan dan amal – amal shalih kita.
#2 Memahami Keutamaan dalam Beramal
Bagi kita yang ingin mulai menerapkan konsistensi terhadap suatu amalan kebaikan, maka cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memahami apa keutamaan dalam beramal yang ingin kita targetkan keistiqomahan nya tersebut.
Misalnya, ketika kita ingin dapat bisa istiqomah dalam shalat malam, maka di sini kita perlu mengetahui apa keutamaannya agar kita dapat terus menegakkan shalat malam itu sepanjang hayat.
Beberapa contoh keutamaan shalat malam, antara lain adalah:
- Diangkat derajatnya ke tempat terpuji (Lihat QS. Al-Isra’: 79)
- Dibimbing langsung oleh Allah SWT menuju jalan yang lurus (Lihat QS. Al-Muzammil: 1-6)
- Diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi (Lihat HR. Bukhari no. 1145 dan HR. Muslim no. 1808)
- Penghapus dosa – dosa yang telah dilakukan (HR. Tirmidzi)
Dan tentu masih banyak lagi keutamaan lainnya. Keutamaan – keutamaan ini bisa disesuaikan dengan apa amalan yang kita ingin fokuskan agar bisa dapat kita lakukan terus-menerus secara konsisten. Bahkan saya juga mendapatkan tips dari Ustadz Adi Hidayat untuk menempelkan keutamaan-keutamaan ini pada tempat yang mudah dilihat, sehingga kita dapat selalu ingat dengan keutamaannya dan bersemangat selalu untuk melakukannya.
#3 Memahami Konsekuensi Saat Lalai
Cara kedua untuk membantu kita agar semangat untuk tetap istiqomah adalah mempelajari hal sebaliknya. Kalau yang sebelumnya tentang keutamaan, maka yang ini adalah tentang konsekuensi yang akan kita hadapi kalau seandainya lalai.
Dalam konteks hidup di luar negeri sebagai minoritas Muslim, salah satu hal yang paling sering ‘digampangkan’ adalah mencari makan – makanan yang halal. Dalam Islam, salah satu makanan yang halal tentu saja selain daging babi, bangkai, atau darah, namun juga harus disembelih dengan nama Allah SWT. Bagian ini, bagi banyak orang bisa jadi digampangkan dan jawaban yang seringkali saya dapatkan kalau berada di luar negeri, ‘udahlah yang penting kan bukan daging babi, kita kan mencari ayam.’
Kalau konteksnya di daerah tersebut memang sudah sulit sekali ditemukan makanan halal, termasuk tempat pemotongan halal, mungkin masih bisa dipahami. Tetapi jika sebenarnya masih ada banyak alternatif makanan halal yang jelas (termasuk tempat pemotongan daging halal masih bisa ditemukan), dan memilih makan makanan yang belum jelas dengan alasan ‘enak dan bukan babi’, nah ini yang biasanya menjadi ‘ujian iman’ kita kepada Allah SWT dalam bentuk apakah kita istiqomah atau tidak.
Jika kita berniat ‘hijrah’ dari kondisi yang seperti itu, maka cara kedua ini bisa kita coba. Sekarang mari kita coba daftar apa saja sih konsekuensi yang bisa jadi kita dapatkan apabila kita memakan makanan yang haram?
- Doa menjadi tertolak dan tidak terkabul (HR. Muslim no. 1015), hal ini dikarenakan Allah SWT pada dasarnya suci dan segala yang tidak suci yang menuju kepadaNya akan tertolak.
- Amal ibadah tidak diterima selama 40 hari (HR. At-Thabrani)
- Kadar iman dan istiqomahnya rusak. Makanan yang haram atau syubhat (tidak jelas halal-haramnya) akan membuat diri kita kekurangan semangat dalam melaksanakan amal shalih. Apabila siklus ini tidak diputus, maka terus-menerus akan ada di kubangan kemalasan amal (HR. Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi)
- Merusak keturunan. Makanan yang haram akan berpotensi merusak keturunan, terutama dari perangai / akhlaknya (QS. Al-Mu’minun: 51).
Dan tentu masih banyak konsekuensi-konsekuensi lainnya yang didapat dari menggampangkan masalah makanan halal dan haram ini. Cara yang sama dari Ustadz Adi Hidayat juga dapat digunakan, yaitu dengan menempelkan konsekuens-konsekuensi ini di banyak tempat yang sering kita lihat agar kita senantiasa teringat dan pada akhirnya istiqomah dalam menjauhi makanan yang haram.
#4 Memantapkan dengan Doa
Setelah kita memehamai ketiga hal di atas, maka tentu yang harus kita lakukan adalah menyegerakan beramal. Ibarat kalau saya sudah mempelajari apa saja keutamaan menulis blog yang bermanfaat dalam Islam, atau apa konsekuensi yang mungkin didapatkan apabila saya tidak menulis blog, maka segera langsung menulis! Karena pada hakikatnya sebaik – baik amal ibadah itu adalah: disegerakan, dianggap kecil, dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Jika kemudian kita sudah berikhtiar dengan amalan yang kita lakukan, maka cara terakhir adalah memantapkannya dengan doa. Adapun doa yang diajarkan salah satunya ada di QS. Ali-Imran: 8, yang berbunyi,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada keseatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali-Imran: 8).
Saya biasa melantunkan doa ini setelah shalat, dan dampaknya sangat luar biasa. Saya merasa bahwa dengan doa ini, Allah SWT senantiasa menjaga hari – hari saya dari hal yang buruk dan mengembalikan saya kepada hal – hal yang baik. Mudah-mudahan hal ini juga bermanfaat untuk teman – teman semuanya.
Sebagai penutup tulisan, izinkan saya untuk mengutip terkait amalan apa yang sebenarnya disukai oleh Allah SWT,
“Dan ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT yaitu adalah alaman yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 2818).
Semoga sedikit tulisan ini bisa membantu kita untuk menjaga istiqomah dalam beramal atau beribadah kepada Allah SWT.
Salam,
Arry Rahmawan


Leave a Comment