4 Kebiasaan untuk Melatih diri Menjadi Inovatif

Bismillahirrahmaanirrahiim. Dalam tulisan kali ini, saya ingin membagikan sebagian materi yang sedang saya siapkan untuk mini workshop inovasi yang akan saya bawakan di DotIndonesia pada hari Kamis mendatang. Materi yang akan saya sampaikan terkait dengan empat kebiasaan untuk melatih diri menjadi inovatif. Inovatif di sini maksudnya adalah seseorang yang penuh gagasan, bertujuan mengubah sesuatu dengan memberikan solusi bagi suatu masalah. Namun, sayangnya, banyak di antara kita yang merasa tidak memiliki kreativitas, sehingga menciptakan ide inovasi menjadi tantangan tersendiri. Padahal, kemampuan berpikir kreatif dan inovatif sangat diperlukan dalam memecahkan masalah yang semakin kompleks di hampir semua sektor industri.

Salah satu teknik yang saya gunakan untuk melatih diri agar lebih kreatif dalam menciptakan ide adalah metode yang diajarkan oleh Richard St. John. Richard, seorang success analyst yang memiliki passion mencari pola-pola yang dimiliki oleh orang-orang kreatif. Selama beberapa dekade, Richard mengunjungi dan mewawancarai orang-orang kreatif di seluruh dunia. Menurut pengamatannya, orang-orang kreatif yang sering menghasilkan ide adalah mereka yang memiliki empat kebiasaan.

Kebiasaan #1: Mampu Mengidentifikasi Hal yang Tidak Ideal dengan Cepat

Orang-orang kreatif memiliki kebiasaan mengidentifikasi masalah. Ketika kebanyakan orang melihat sesuatu sebagai hal biasa atau lumrah, orang kreatif justru melihatnya sebagai sesuatu yang kurang ideal.

Sebagai contoh, saya akan menceritakan pengalaman Dewi Sari Tanjung yang berkaitan dengan kebiasaan pertama ini. Pada tahun 2003, saat Dewi menjadi mahasiswa diploma di Universitas Brawijaya, ia menyadari banyaknya daun kering berserakan di kampus. Bagi sebagian besar orang Indonesia, daun-daun kering yang berguguran, disapu, dan dibuang ke tempat sampah atau dibakar adalah hal yang lumrah.

Namun, bagi Dewi, hal itu tidak ideal. Selain daun kering yang membuat beberapa area terlihat berantakan, ia juga melihat bahwa pembakaran daun menimbulkan masalah baru (polusi). Oleh karena itu, ia bertanya: bagaimana cara agar daun kering ini dimanfaatkan dan tidak menimbulkan polusi?

Dia pun menjawab pertanyaan itu dengan ide cemerlang untuk mengolah daun-daun yang ada di kampusnya menjadi kerajinan tangan. Ia menciptakan berbagai bentuk kerajinan, seperti figura foto, undangan, kotak pensil, dan lain-lain. Dewi mulai memasarkan karya seninya di pameran dan menitipkannya kepada teman-temannya di kampus untuk dijual. Ternyata, permintaan tinggi dari teman-temannya membuat Dewi semakin bersemangat mengembangkan bisnis kerajinan ini hingga akhirnya laku keras di Indonesia dan diminati hingga ke luar negeri. Kisah Dewi ini mengajarkan kita bahwa kemampuan melihat peluang dalam hal-hal yang kurang ideal dapat membantu kita menjadi lebih inovatif.

Kebiasaan #2: Banyak Mendengarkan Orang Lain

Berinteraksi dengan orang kreatif dan mendengarkan gagasan mereka sangat penting dalam mengembangkan inovasi. Seperti kata pembimbing PhD saya, “Average people discuss about people, while GREAT people discuss ideas.” Kita dapat menjadi lebih kreatif dengan banyak mendengar saat berdiskusi dengan orang-orang yang penuh dengan gagasan.

Manfaat dari kebiasaan ini terlihat ketika saya mulai menulis buku saya, Studentpreneur Guidebook. Pada tahun 2012, saya memiliki teman-teman yang memulai bisnis saat kuliah, dan kami menyebutnya Studentpreneur. Saat itu, saya menjabat sebagai presiden Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Kampus dan wakil presiden Center for Entrepreneurship Development and Studies (CEDS) Universitas Indonesia. Kami pernah berdiskusi tentang ilmu bisnis yang didapat di kelas formal terlalu teoretis, sementara di seminar umum terlalu praktikal dan ekstrim. Ekstrim di sini maksudnya sangat mementingkan pengembangan bisnis dan bahkan hingga meninggalkan tanggungjawab sebagai mahasiswa.

Akhirnya, kami mencetuskan konsep Studentpreneur yang seimbang antara kuliah dan bisnis, karena kuliah juga merupakan amanah dari orang tua. Saya pun merangkum berbagai strategi, tips, dan ide-ide kreatif dari teman-teman saya dalam buku Studentpreneur Guidebook. Buku ini berisi prinsip dan strategi untuk menyeimbangkan perjuangan akademik dan bisnis serta menghadirkan beberapa strategi dari teman-teman di TDA Kampus dan CEDS sebagai inspirasi. Alhasil, buku ini menjadi best seller dalam sebulan setelah peluncurannya.

Buk Studentpreneur Guidebook hasil diskusi pemikiran inovatif bersama teman-teman CEDS dan TDA Kampus

Kebiasaan #3: Mengamati dan Memberi Inspirasi pada Pikiran

Di era media sosial yang penuh informasi, kita perlu berhati-hati dalam mengonsumsi konten. Terdapat tiga tipe orang dalam mengonsumsi informasi: yang mencari kesenangan, yang mengikuti lingkaran pertemanan, dan yang mencari inspirasi.

Orang yang mencari kesenangan akan mengonsumsi konten hiburan yang tidak memicu diskusi atau ide. Orang yang mengikuti lingkaran pertemanan sering membandingkan diri mereka dengan orang lain sehingga selalu merasa tidak cukup. Sementara, orang yang mencari inspirasi akan mencari konten relevan dengan pekerjaan atau karir mereka, serta ide-ide inovatif untuk perbaikan diri.

Inovator Diego Molino mengingatkan agar berhati-hati dengan sikap yang hanya mencari kesenangan dan membandingkan diri dengan orang lain. Jika ingin menjadi kreatif, kita perlu mengubah cara menyaring informasi.

Bagaimana caranya? Dengan banyak mengamati ide-ide yang dimunculkan orang lain dan bertebaran di mana-mana, baik dalam bentuk audio, visual, maupun teks. Berikut beberapa cara praktis untuk mengembangkan kebiasaan mengamati dan memberi inspirasi pada pikiran:

  1. Menonton kajian gagasan, seperti TED Talks
  2. Membaca buku
  3. Membaca ringkasan buku jika tidak sempat (misalnya berlangganan Blinkist)
  4. Membaca studi kasus dari jurnal atau lembaga kredibel, seperti Harvard Business Review
  5. Mengikuti media sosial influencer dengan gagasan unik dan menarik
  6. Berlangganan newsletter orang kreatif, seperti Nathan Lozeron dari Productivity Game

Manfaat dari kebiasaan ini terlihat ketika saya dan istri berhasil menulis buku bersama berjudul “Happy Life Guidebook”. Buku ini berisi kumpulan gagasan yang kami observasi tentang makna kebahagiaan dari perspektif Islam dan ilmu sekuler. Kami menulis buku ini untuk menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah materi, melainkan ketika kita melakukan sesuatu yang selaras dengan peran kita sebagai hamba atau makhluk ciptaan Tuhan. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya saat kita menciptakan kebaikan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Kebiasaan #4: Mencatat Ide yang Muncul di Kepala

Ilham atau ide seringkali muncul tiba-tiba di kepala kita, dan bisa hilang seketika jika tidak segera dicatat. Larry Page dan Sergey Brin, pendiri Google, memberikan contoh penting terkait mencatat ide. Di era 90an, mereka mencatat ide untuk mengumpulkan semua situs web dan menyediakan daftar tautan yang mudah dicari dan diakses. Dari ide yang dicatat itu, terciptalah mesin pencari Google. Filosofi “Write it Down” ini kemudian menginspirasi Google untuk meluncurkan Google Keep, tempat menyimpan dan menulis ide.

Saya menggunakan aplikasi Things untuk mencatat ide yang muncul di kepala saya. Aplikasi ini memiliki bagian ‘sometimes’, yang berguna untuk mengumpulkan ide yang mungkin dibutuhkan di kemudian hari. Jika saya lupa, saya bisa kembali ke bagian tersebut untuk melihat ide perbaikan yang ingin saya lakukan.

Inilah 4 kebiasaan yang saya pelajari dan terapkan untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi kreativitas, yang akan muncul seiring dengan usaha mengasah diri dan berlatih terus-menerus. Kebiasaan-kebiasaan di atas dapat membantu dalam menggali kreativitas tersebut.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam,

Arry Rahmawan