Apa yang Saya Pelajari dari Supervisor PhD saya dalam mengajarkan subject Engineering

Belajar dari salah satu kampus terbaik di dunia, yaitu TU Delft, selalu banyak memberikan pengalaman dan pembelajaran – pembelajaran baru. Salah satu hal yang saya pelajari selain menajamkan kemampuan riset adalah terkait dengan strategi mengajarkan subject engineering untuk mahasiswa. Saya ingat betul sewaktu awal kuliah di TU Delft tahun 2019 sebelum pandemi, saya sempat mengikuti beberapa perkuliahan yang dibawakan oleh supervisor saya. Salah satu mata kuliah yang saya ikuti waktu itu adalah Simulation Masterclass. Sebelum saya mengikuti kelasnya, saya mencoba untuk membaca modul – modul yang diberikan. Saya agak terkejut karena banyak sekali istilah yang ribet dan saya tidak familiar, karena benar – benar membahas topik disertasi secara mendalam. Buat saya dengan latar belakang anak teknik, mengikuti kuliah teknik (engineering subject) di TU Delft masih horor juga rasanya karena masih banyak hal yang ternyata perlu saya pelajari.

Namun sewaktu saya mengikuti kelas beliau, saya dibuat kagum karena cara pembawaannya yang sangat enak, engaging, dan membuat saya yang tadinya bingung menjadi clear. Tidak jarang saya melemparkan beberapa pertanyaan untuk mengklarifikasi sesuatu yang saya belum paham. Bahkan ketika terlihat wajah saya ini masih belum paham juga, selesai kelas, supervisor saya mengajak saya diskusi lagi dan memastikan kalau saya sudah paham. Ini berlaku bukan hanya untuk saya saja, tetapi juga mahasiswanya yang lain.

Seiring berjalannya waktu, sebagai PhD Candidate bimbingannya, saya diberikan beberapa kesempatan untuk membantu mengajar dengan menjadi teaching assistant, sharing, atau sekedar presentasi proyek yang saya kerjakan. Artikel kali ini adalah apa yang ingin saya bagikan terkait apa yang saya pelajari dari supervisor saya, lebih tepatnya ketika saya ‘dipersiapkan’ untuk teaching.

Paradigm Shift is The Primary Goal of Teaching

Kalimat di atas itulah yang merupakan pembuka ketika supervisor saya melakukan briefing untuk menyiapkan saya dengan tugas pengajaran.

“Your primary goal in teaching is to get your students to see something differently or even change their minds about the subject from boring and very difficult to a fun and enjoyable difficulty to follow. This is what we call a paradigm shift. If you can’t get someone to experience a paradigm shift, you won’t be able to get them enthusiastic enough to follow your course.”

Prof. dr. ir. Alexander Verbraeck, My Supervisor

Sebuah pembuka yang menurut saya sangat menarik. Sebuah nasihat menarik yang membuat saya menarik kesimpulan bahwa ternyata Profesor saya ini secara sengaja atau intentional memang tujuan utamanya adalah membuat pengajaran hard engineering subject ini menjadi asik banget untuk dipelajari.

Sambil saya menunggu apa penjelasan selanjutnya.

“So, Education and teaching are more than just how many bullets to put on your slide or how to project your voice – But the central emphasis of the teaching is on CONNECTION.”

Sambil mendengarkan briefing ini, saya diam – diam membuat catatan di kepala saya, berharap agar catatannya tidak hilang atau meluap.

Ada 3 CONNECTION yang penting diperhatikan untuk membantu kamu melakukan paradigm shift pada mahasiswa.

Pertama, Connection with your subject. Jadi sebelum kita mengajar, pastikan dulu bahwa kita benar – benar mengetahui apa sebenarnya manfaat dari subject yang kita ajarkan untuk pertumbuhan mahasiswa kita. Jangan sampai kita sebagai orang yang mengajarkan subject ini sendiri tidak antusias karena merasa bahwa mata kuliah ini sudah basi dan tidak bermanfaat lagi. Selain mengetahui manfaatnya, kita juga harus tahu seluk-beluk dari materi yang akan kita ajarkan. Terlepas dari mungkin kita mendapatkan amanah dadakan yang mungkin bukan di bidang kita, sebisa mungkin kita pelajari juga seluk-beluk dan kedalaman materinya. Tapi kalau di Eropa ini, kata Profesor saya sih jarang terjadi. Merupakan suatu hal yang kurang etis jika suatu subject dipaksakan untuk diajarkan pada orang yang bidang kepakarannya bukan disitu.

Kedua, Connection with yourself. Hal ini terkait dengan integrity and authenticity, atau keaslian kita dalam mengajar. Setiap dosen atau guru pastilah memiliki gayanya masing – masing. Ada yang gayanya sangat disiplin dan tegas. Ada yang gayanya santai dalam mengajar namun sangat strict pada hasil ujian yang didapatkan mahasiswa. Kalau kata Prof saya, coba kita cek dari diri kita, sebenarnya gaya mengajar kita yang aslinya itu seperti apa? Berdasarkan assessment yang saya terima, saya adalah tipe pengajar yang suka berdiskusi dengan mahasiswanya dan juga sambil melemparkan jokes-jokes agar kelas tetap segar. Nah, kata Profesor saya, tetap jadi kamu apa adanya tapi tetap perhatikan expected learning outcome yang diharapkan dari perkuliahan itu. Sehingga nantinya saya bisa tetap menjadi orang yang apa adanya namun juga bisa efektif dalam memenuhi tujuan pembelajaran.

Ketiga, Connecting with your students. “Nobody wants to waste their precious time”, kata Profesor saya. “Engage them and involve them in your lecture.” Setidaknya, buat percakapan terbuka dan dengarkan mereka di sela – sela perkuliahan. Bisa jadi, di antara percakapan tersebut ada hal menarik yang bisa kita pelajari. Bahkan, walaupun kita sudah menjadi Profesor, selalu ada hal yang akan kita pelajari. “Profesor seperti saya, sudah jarang belajar dengan duduk di kelas, tapi saya belajar dari percakapan saya dengan mahasiswa.”

Ketiga prinsip connection itulah yang banyak saya ingat dan kemudian saya gunakan untuk aktivitas saya sebagai teacher, trainer, atau pembicara publik.

Kalau boleh menambahkan, sebagai seorang Muslim, saya akan menambahkan CONNECTION KEEMPAT, yang mana ini merupakan the ultimate connection, yaitu adalah:

Connecting with God, atau terkoneksi dengan Allah SWT. Minimal sebelum mengajar, mengucapkan basmalah, mohon doa agar dilancarkan dan diberikan tambahan pemahaman dalam kegiatan belajar mengajar. Harapan utama saya, tentu aktivitas mengajar yang saya lakukan dapat menjadi pahala di akhirat kelak. Karena apalah artinya hidup, jika bukan untuk mempersiapkan kematian kita.

Menerapkan keempat prinsip di atas, membuat saya semakin semangat dalam mengajar mahasiswa atau peserta training karena menurut saya hal tersebut menjadi sebuah tugas suci. Alhamdulillaah, setelah menerapkan keempat prinsip tersebut secara konsisten, saya seringkali mendapatkan apresiasi dari feedback perkuliahan atau pelatihan yang saya bawakan.

Pesan dari kolega yang memberikan feedback terhadap peatihan yang saya bawakan

Alhamdulillaah, dengan ilmu yang saya pelajari ini mampu sedikit menumbuhkan teknik mengajar yang saya gunakan.

Semoga tips ini juga bermanfaat buat rekan – rekan, khususnya yang berprofesi sebagai sesama dosen atau pengajar ya. Apakah ada hal lain yang sekiranya perlu ditambahkan? Silakan diskusikan di kotak komentar di bawah ya.

Salam,
Arry Rahmawan