Menu
Arry Rahmawan Destyanto
Not search
Lainnya
  • About Me
  • Lecture Notes
    • Engineering Design
    • Interpersonal and Critical Thinking Skills
    • Problem Solving in Quality Systems
    • Serious Games Design
    • Supply Chain System
    • System Modeling
    • Technology Entrepreneurship
  • My Journey
    • Artikel Ilmiah
    • Buku
      • Bermain untuk Belajar
      • Studentpreneur Guidebook
      • Happy Life Guidebook
    • Hak Kekayaan Intelektual
    • Pendidikan dan Sertifikasi
    • Startup
      • AlkindiKids
      • Signifier Games
    • Yayasan
      • CerdasMulia Institute
    • Narasumber Workshop / Seminar
  • Contact
Cari konten di sini
Arry Rahmawan Destyanto

Dokumentasi Perjalanan dan Pengabdian Hidup Saya untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa demi Meraih Ridha Allah SWT.

  • About Me
  • Lecture Notes
    • Engineering Design
    • Interpersonal and Critical Thinking Skills
    • Problem Solving in Quality Systems
    • Serious Games Design
    • Supply Chain System
    • System Modeling
    • Technology Entrepreneurship
  • My Journey
    • Artikel Ilmiah
    • Buku
      • Bermain untuk Belajar
      • Studentpreneur Guidebook
      • Happy Life Guidebook
    • Hak Kekayaan Intelektual
    • Pendidikan dan Sertifikasi
    • Startup
      • AlkindiKids
      • Signifier Games
    • Yayasan
      • CerdasMulia Institute
    • Narasumber Workshop / Seminar
  • Contact
  • Posted in
    • Business Development

BMC untuk Lembaga Non-Profit – Mengenal apa itu BMCSE

  • Posted byby Arry Rahmawan
  • July 12, 2021
  • 0 Comments
  • share

BMC untuk lembaga non-profit, mungkinkah Business Model Canvas diterapkan untuk organisasi non-business? Sewaktu saya membawakan workshop business model canvas di Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional (LPKN), banyak peserta yang bertanya apakah BMC bisa diaplikasikan untuk menggambarkan model bisnis yayasan atau lembaga non-profit? Jika bisa, bagaimana caranya? Karena blok – blok yang ada di Business Model Canvas pada dasarnya ditujukan untuk organisasi bisnis yang berorientasi kepada profit?

Jawabannya tentu saja bisa. Caranya adalah dengan menggunakan varian Business Model Canvas yang sesuai untuk organisasi jenis tersebut. Salah satu jenis varian BMC yang dapat dicoba adalah Business Model Canvas for Social Enterprise (BMCSE) yang dikembangkan oleh Qastharin (2016) dari konsep dasar Business Model Canvas (Osterwalder and Pigneur).

Apa yang berbeda dari BMC for Social enterprise ini? Berikut ini adalah tampilan dari BMC for social enterprise, atau BMCSE untuk perusahaan/organisasi sosial.

BMC untuk lembaga non-profit
Tampilan BMC for Social Enterprise (Qastharin, 2016)

sekilas dari gambar di atas kita dapat melihat ada 2 perbedaan mendasar anatara BMCSE dengan BMC pada umumnya. Perbedaannya terletak pada: (1) Memiliki 2 blok tambahan, yaitu mission dan impact, membuat total bloknya menjadi 11; (2) Pada bagian customer segments dan value propositions terbagi menjadi dua: co-creator dan beneficiary.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang Business Model Canvas for Social Enterprise dan bagaimana cara pengisiannya, berdasarkan keunikan yang ada pada BMC for social enterprise.

Blok Mission dan Cara Pengisiannya

Blok mission menjadi blok paling krusial yang membedakan organisasi non-profit atau sosial dengan organisasi yang berorientasi pada keuntungan ekonomi semata. “Misi” di sini diartikan sebagai sebuah pernyataan atau alasan mengapa organisasi tersebut ada, yang seringkali menjadi acuan keberhasilan organisasi tersebut.

Blok mission ini diisi oleh pernyataan misi oleh social enterprise tersebut. Umumnya setiap organisasi sosial sudah memiliki pernyataan misi yang kuat. Jika hanya ada satu pernyataan misi, maka pernyataan bisa langsung ditulis di kanvas. Jika pernyataan misi ada lebih dari satu, maka masing – masing poin misi ditulis di lembar sticky notes yang berbeda.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari pernyataan misi organisasi sosial:

  1. Mengakselerasi pemerataan pendidikan di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia
  2. Menjadikan setiap anak muda berusia 18 – 25 tahun mampu mandiri secara ekonomi dengan mengembangkan bisnis sendiri
  3. Memberikan akses terhadap kebutuhan tabung oksigen dan peralatan medis untuk pasien COVID-19 di Indonesia bagi mereka yang sedang isolasi mandiri, membutuhkan, dan tidak mampu secara finansial.
  4. Mengurangi tingkat kematian akibat kelaparan pada daerah terbelakang dan kumuh di Indonesia
  5. Membina dan mengembangkan anak yatim dan terlantar menjadi pemimpin masa depan Indonesia yang berakal cerdas dan berakhlak mulia.

Bagian mission ini menjadi pembeda dan penting untuk dituliskan sebagai jantung dari organisasi tersebut. Semakin jelas mission statement nya, maka akan semakin mudah untuk mengisi blok BMC lainnya.

Blok Social Impact and Measurement dan cara pengisiannya

Blok social impact berisikan daftar dampak sosial yang diharapkan dari organisasi tersebut beserta bagaimana cara mengukurnya.

Ambil contoh misalkan untuk organisasi sosial yang memiliki misi nomor 4, seperti pada contoh di atas. Maka output dampak sosial dapat berupa: total jumlah masyarakat yang diberi makan, berapa total makanan yang didistribusikan, persentase berkurangnya kematian akibat kelaparan, dan cara pengukuran lainnya.

Seperti biasa, untuk satu dampak sosial dan indikatornya bisa ditulis di sticky notes, dan setiap sticky notes mewakili satu dampak sosial saja.

Blok Customer Segments dan cara pengisiannya

Pada blok customer segment, terdapat dua bagian yaitu co-creator dan beneficiary. Hal ini merupakan perbedaan yang cukup fundamental dari organisasi bisnis pada umumnya, di mana pada bagian ini biasanya diisi dengan kriteria pelanggan, apakah itu business to business (B2B), business to customer (B2C), dan business to government (B2G).

Pada BMC for Social Enterprise, co-creator maksudnya adalah pihak-pihak terkait (stakeholders) yang dapat berkolaborasi untuk menciptakan dampak sosial. Sementara beneficiary adalah penerima nilai sosialnya.

Beberapa contoh co-creator adalah donatur, yang bisa berupa perorangan, perusahaan, pemerintah, atau lembaga sosial lainnya. Sementara contoh beneficiary adalah mereka yang ditargetkan menerima bantuan sosial, seperti misalkan fakir miskin, anak terlantar, anak yatim, orang dengan sakit tertentu, dan lain sebagainya.

Blok Value Proposition dan cara pengisiannya

Pada blok value proposition, cara pengisiannya mengikuti dengan cara pengisian customer segments tadi. Pada bagian co-creator, dituliskan value yang ditujukan untuk konsumen yang merupakan co-creator. Sementara untuk beneficiary, value tersebut ditujukan untuk penerima manfaat dari organisasi sosial.

Contoh value proposition untuk co-creator yang merupakan donatur perorangan di panti asuhan, misalnya: kemudahan penyaluran harta untuk anak yatim, keberkahan melalui doa anak yatim kepada donatur.

Contoh value proposition untuk beneficiary yang merupakan anak yatim, misalnya: kecukupan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, akses pendidikan yang layak, serta yang lain sebagainya.

Untuk blok lainnya tidak saya bahas secara rinci dikarenakan tidak jauh berbeda dengan business model canvas standar yang sudah ada. Anda bisa mengecek panduan pengisiannya di tautan berikut ini.

Pada artikel berikutnya, insyaAllah saya akan coba berikan contoh bagaimana menggunakan BMC for social enterprise pada real case study yang nantinya saya harap bisa juga diterapkan di organisasi soial Anda masing – masing.

Semoga bermanfaat!

Bagi Anda yang ingin mengundang saya sebagai instruktur untuk melakukan inovasi dengan menggunakan BMC ini, silakan hubungi via WhatsApp 0856 4087 9848 (Melinda) atau email langsung ke arry.rahmawan@gmail.com.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di seri tulisan business canvas series berikutnya.

Salam,
Arry Rahmawan

Untuk sahabat yang ingin mendapatkan tutorial lainnya, silakan subscribe, like dan share Channel youtube saya.

Bagi yang ingin berinteraksi dan mendapatkan update tentang aktivitas saya, silakan follow akun Instagram saya di @ArryRahmawan

Referensi:

Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business model generation: a handbook for visionaries, game changers, and challengers (Vol. 1). John Wiley & Sons.

Qastharin, A. R. (2016). Business model canvas for social enterprise. Journal of Business and Economics, 7(4), 627-637

  • share
  • BMC social enterprise
  • BMC untuk LBH
  • BMC untuk non-profit
  • BMC untuk yayasan
  • business model canvas for social enterprise
  • menggunakan BMC untuk social enterprise

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang pembelajar yang saat ini diamanahkan sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia. Blog ini merupakan salah satu karya untuk mendokumentasikan segala aktivitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilakukan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa. Semoga bermanfaat buat para pembaca semuanya. Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Post navigation

previous post

Cara Mengisi Blok Key Resources pada Business Model Canvas

next post

Aplikasi Business Model Canvas for Social Enterprise (BMCSE) pada Organisasi atau Lembaga Sosial

Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Penulis

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang pembelajar yang saat ini diamanahkan sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia. Blog ini merupakan salah satu karya untuk mendokumentasikan segala aktivitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilakukan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa. Semoga bermanfaat buat para pembaca semuanya.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

View all posts

Terbanyak Dibaca

    • Postedin
      • Pengembangan Diri
    11 Tips Sukses Berbicara di Depan Umum
    • January 28, 2013
    • 4 minute read
    • Postedin
      • Business Development
    Panduan Lengkap Business Model Canvas untuk Perencanaan Bisnis
    • April 16, 2017
    • 12 minute read

Pengalaman Narasumber

  • Pelatihan Inovasi Model Bisnis di Era VUCA (PT. Astra Honda Motor)
  • Workshop Online Business Model Canvas – Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional (LPKN)
  • Workshop “Becoming Creative Student” Kwik Kian Gie School of Business bersama Arry Rahmawan
  • Webinar Self and Organizational Leadership Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR)
  • Pelatihan Online Pembuatan Laporan Keuangan UMKM di Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh

Berlangganan untuk update terbaru

Connect with Me!

  • twitter
  • facebook
  • youtube
  • instagram
  • email
  • github
  • Dokumentasi Perjalanan dan Pengabdian Hidup Saya untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa demi Meraih Ridha Allah SWT.
Go to mobile version