Biasakan Mengevaluasi Profit, Bukan Hanya Omzet

Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan keheranan teman-teman sesama wirausahawan, “Kenapa sih sering sekali kita mendengar kalau di komunitas-komunitas patokan kesuksesan pebisnis dilihat dari omzet?”. Sering kan kita mendengar ada orang yang bilang bahwa “si dia hebat ya, omzetnya puluhan juta sebulan.”, “atau si fulan tuh dia omzetnya ratusan juta sebulan.” atau yang lebih fantastis lagi, “itu dia kan si fulanah yang omzetnya milyaran setahun.”

Terlihat ada yang janggal? Ada. Mau tahu? Baca artikel ini lebih lanjut. 🙂

Teman-teman saya dan juga saya sendiri sebenarnya merasa ada yang janggal. Janggalnya tu gini, karena ukuran itu rasanya kurang tepat. Ketika kita membicarakan omzet, kita berarti hanya membicarakan revenue kan? Revenue atau pendapatan itu berasal dari berapa produk yang bisa kita jual dikalikan dengan berapa harga yang kita pasang.

Sekarang coba bayangkan, cabang bisnis itu kan banyak. Kalau kesuksesan bisnis itu diukur dari omzet, maka yuk rame-rame kita berkecimpung di dunia properti, komoditas, atau yang harga jualnya mahal-mahal. Pasti omzetnya banyak tuh, bahkan dalam kurun waktu satu bulan. Tetapi kan ga cuma itu toh yang harus dipikirkan?

Bukan hanya revenue, kita harus memikirkan cost, kita juga harus memikirkan berapa besar pengeluaran dari bisnis kita. Apa artinya omzet 100 juta jika mengeluarkan biaya sebesar 100 juta juga? Apa artinya omzet 1 milyar jika biaya yang dikeluarkan untuk mencapainya 3 milyar?

Omzet dikurang biaya inilah yang dinamakan profit. Jadi, ada satu hukum paling penting dalam bisnis atau perdagangan itu agar bisa bertahan, “Tidak peduli berapapun pendapatan kita (mulai dari jutaan sampai milyaran), selama biaya yang dikeluarkan untuk mencapainya sama atau lebih besar maka itu sama sekali tidak ada gunanya.”

Jadi, kenapa sekarang tidak dibiasakan untuk berkata atau bertanya profit dan bukan hanya sekedar omzet? Karena yang namanya usaha itu kan secara garis besar ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu omzet dan biayanya. Revenue dan Costnya. Kalau ingin program studi yang cocok membahas yang seperti ini, masuklah ke T. Industri (#eaaa… intermezzo….. )

Apalagi di era kompetisi yang ketat seperti sekarang, profit benar-benar menjadi standar perkembangan dan pertumbuhan usaha. Jadi, biasakan untuk mengubah pola pikir kita, khususnya wirausahawan muda untuk langsung memikirkan profit dan bukan menjadikan omzet sebagai standar. Bahkan biasanya tantangan usaha di era sekarang ini adalah memperkecil cost sekecil-kecilnya dalam produksi dan menjalankan bisnis ketimbang menaikkan harga sebesar-besarnya untuk menciptakan profit yang lebih besar lagi.

Jadi, yuk mulai memperbesar profit kita! Tapi ingat, tetap harus dilandasi dengan cara-cara yang benar agar bisnis menjadi berkah dan bisa bertahan lama. 🙂

Salam CerdasMulia

Ingin berkomunikasi lebih lanjut? Follow @ArryRahmawan