
Setiap memperingati hari raya idul adha, saya selalu teringat akan keteladanan Nabi Ibrahim AS, bapaknya para nabi. Ya, idul adha bukan hanya sekedar berkurban, tetapi lebih dari itu. Bagaimana kita meresapi nilai-nilai yang ada dari kurban yang kita keluarkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
“Qurban” adalah perintah Allah (QS108:2), sunnah nabi Ibrahim dan nabi Muhammad, bukti cinta kepada Allah, “Kalian tidak akan mendapatkan nilai kebaikan sempurna sampai kalian memberikan terbaik dari yang kalian cintai”(QS3:92), semakin dekat dengan Allah (QS9:99), saat tetesan darah qurban pertama maka seluruh dosa yang berqurban Allah ampuni, demikian sabda Rasulullah.
Bayangkan, seorang bapak yang tengah berbahagia karena dikaruniai seorang anak laki-laki yang selama ini didamba-dambakan. Tiba-tiba turun perintah Allah untuk menyembelih anak yang sudah dinantikan sejak lama, Ismail AS. Di sinilah kita dapat mencontoh betapa luar biasa ketakwaan yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan juga keikhlasan dari nabi Ismail AS.
Berkurban untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah
Berkurban adalah bagaimana kita bisa menjadi lebih dekat kepada Allah swt. Sudahkah dengan kurban yang kita lakukan, kita menjadi tambah dekat? Atau justru tambah jauh dari Allah?
Sudahkah kita mempersembahkan kurban terbaik untuk Allah, ataukah kita membeli kurban terbaik hanya untuk sekedar gengsi dengan tetangga?
Sudahkah kita mempersembahkan kurban terbaik untuk Allah, atau memang karena kita ingin mendapatkan pujian dari orang-orang sekitar?
Sungguh tantangan orang yang berkurban itu pun berat. Saya pun bahkan melihat ada panitia kurban yang ‘mengantongi’ hasil pemotongan kurban yang diurusnya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Ada juga yang membawa kabur uang kurban di suatu daerah hingga menjadi buronan polisi.
Apakah idul adha ini hanya dimaknai sebatas mendapatkan daging kambing atau sapi?
Kekuatan itu ada di saat kita ikhlas
Apa yang membuat nabi Ibrahim akhirnya berani memutuskan untuk menyembelih anaknya sendiri? Itu karena nabi Ibrahim ikhlas terhadap perintah Allah swt. Nabi Ibrahim mencontohkan bahwa dengan kekuatan ikhlas itulah kita menjadi kuat.
Sama dengan kehidupan kita. Sudahkah kita ikhlas menjalani setiap aktivitas kita? Atau selama ini kita masih malas untuk melakukan kebaikan? Ikhlas, dapat dimaknai sederhana. Melakukan aktivitas di mana kita hanya mengharap Allah meridhoi atau setuju terhadap apa yang kita lakukan.
Kita lebih suka menyenangkan orang lain, sahabat, atau teman-teman kita dan memberikan sisa waktu kita untuk bermunajat kepada Allah. Itu pun jika masih teringat. Padahal begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Kita rela untuk bersiap diri berjumpa dengan artis, penyanyi, atau pemimpin idola kita. Di sisi lain, kita lupa untuk mempersiapkan pertemuan kita dengan Allah dan rasulNya kelak. Lantas, mengapa hati ini masih sulit ikhlas jika kita tahu bahwa hidup di dunia ini adalah sementara?
Semoga idul adha kali ini dapat memberikan makna mendalam kepada kita untuk meneladani ketaqwaan Nabi Ibrahim dan keikhlasan nabi Ismail. Saya beserta keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H.
Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan