Setiap orang yang hidup di dunia tentu ingin menjadi sukses. Selama kita hidup di dunia, tolak ukur kesuksesan paling umum dapat dilihat dari seberapa banyak harta yang ditimbun, seberapa besar follower yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan yang diduduki, seberapa megah rumah yang dipunya, seberapa banyak karya monumental yang dihasilkan, seberapa panjang gelar akademik di belakang nama, seberapa harmonis hubungan dengan keluarga, atau seberapa tinggi ilmu yang dimiliki sehingga bisa dibagikan kepada sesama.
Sebagai seorang productivity coach dalam 12 tahun terakhir baik secara independen maupun di CerdasMulia Institute, saya punya banyak catatan diskusi dengan klien maupun sesama kolega tentang bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan itu semua melalui hidup yang fokus dan produktif. Di blog ini ada beberapa artikel yang telah saya tulis terkait dengan menumbuhkan produktivitas untuk meraih goal achievement ini. Beberapa di antaranya yang terbaru misalkan bagaimana caranya untuk menumbuhkan motivasi diri, melakukan goal settings dengan Rapid Planning Methods, menggunakan prinsip SMARTER dalam membuat resolusi hidup, hingga sebuah teknik klasik dalam membuat to-do list yang efektif dalam mendongkrak produktivitas hidup kita. Semua yang saya tuliskan tersebut pesan utamanya satu: membantu diri saya dan para pembacanya untuk produktif sehingga dapat meraih goals yang sudah ditetapkan. Alhamdulillaah, dengan mengikuti satu atau beberapa cara tersebut, saya dan banyak pembaca terbantu untuk melakukan usaha terbaik dalam rangka mendapatkan goals yang sudah saya tetapkan.
Namun kali ini, saya ingin menulis tentang bagaimana sebenarnya pilar produktivitas sebagai seorang muslim, sehingga sumber rujukan utamanya tentu dari Al-Quran dan Hadits. Saya mendapat ide untuk menulis hal ini dikarenakan pada suatu malam saat sedang membaca buku Lapis – Lapis Keberkahan karya Ustadz Salim A Fillah. Dalam buku tersebut, saya seperti diingatkan dengan kembali melalui tulisan beliau,
“Tak ada yang lebih menakutkan daripada kesusahpayahan yang gugur tak bernilai. Tak ada yang lebih mengerikan daripada hilang tak berbekasnya amal shalih di hadapan Penguasa hari Pembalasan. Dan alangkah sialnya, jika surga Allah itu seluas langit dan Bumi, lalu dengan kemegahan duniamu ini kau tak beroleh sepijak pun tempat kelak di sana.”
Membaca kutipan tersebut membuat saya banyak berpikir dan diingatkan kembali tentang makna sebenarnya dalam segala ke ‘ngoyo’ an saya dalam mengejar target-target hidup. Sebagai seorang yang beriman dengan agama Islam, tentu saya percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan disibukannya kita menetapkan goals dan berusaha susah payah untuk mengejarnya, apakah kita sudah menyelaraskan upaya sehingga amalan – amalan terbaik tersebut dapat menjadi bukti bahwa kita adalah hamba yang cinta kepadaNya? Maka dari itu saya coba berusaha untuk mengkaji apa saja pilar-pilar produktivitas hidup terpenting bagi seorang muslim. Semoga dapat membantu kita semua untuk menyelaraskan semangat mengejar capaian dunia sekaligus mempersiapkan bekal tabungan akhirat.
4 Pilar Muslim Produktif
Tujuan dari kajian pilar muslim produktif ini adalah bagaimana mengoptimalkan semangat kita untuk mengejar berbagai kehormatan dunia sekaligus untuk mempersiapkan kemuliaan di akhirat. Dalam perspektif Islam, berdasarkan kajian terhadap petunjuk yang ada di dalam Al-Quran dan Hadits, saya menemukan ada sekurang – kurangnya 4 pilar utama yang perlu diperhatikan agar hidup kita benar – benar produktif, terutama saat kita berambisi meraih capaian – capaian duniawi. Keempat pilar tersebut adalah,
1. Niat (Intention)
Banyak teknik yang bertebaran di luar sana untuk membantu kita membuat goals, mulai dari dibuat se-spesifik mungkin, hingga goals itu harus selaras dengan passion dan value kita. Namun, di dalam Islam, bahkan sebelum kita membuat goals, ada yang perlu diset terlebih dulu yaitu adalah niat.
Mengapa niat ini ada bahkan sebelum setting goals itu sendiri? Dalam Kitab Shahih Al-Bukhari dan juga kitab Hadits Arba’in karya Imam An-Nawawi, dituliskan hadits dengan nomor urut 1, yaitu:
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pikiran saya tergelitik ketika bertanya mengapa Imam Al-Bukhari yang dikenal sangat ketat dalam menyeleksi keaslian hadits, menghafal 600 ribu hadits yang beredar di masyarakat, lalu menyeleksi 100 ribu hadits yang memiliki riwayat yang jelas, dan memilih sekitar 6000-7000 hadits yang dinyatakan shahih, menaruh hadits tentang NIAT di nomor 1?
Karena, perkara niat ini dalam Islam sungguh tidak main – main. Dalam Hadits Riwayat Imam Muslim no 1905, dijelaskan sebagai berikut:
Di sinilah letak pentingnya menata niat agar kita senantiasa menjadi orang yang beruntung karena mendapatkan rahmat Allah SWT dari amal shalih yang kita kerjakan di dunia. Jadi ketika saat ini kita terbersit untuk mencapai suatu goals atau capaian dunia tertentu, pastikan mengingatkan diri untuk menata niat agar tulus untuk mendapat ridha Allah SWT.
2. Target / Goals
Langkah kedua setelah memantapkan niat, tentunya adalah menentukan apa target / goals yang ingin kita capai. Teknik – teknik goals settings sepertinya adalah topik yang paling banyak saya tuliskan di blog saya ini. Beberapa di antaranya yang sudah saya sebutkan tadi, yaitu SMARTER, RPM, atau Teknik To-Do List klasik. Memang kalau melihat beberapa tulisan saya, sebenarnya banyak ilmu – ilmu yang berasal dari barat (perspektif sekular) yang kemudian saya gunakan. Di sinilah kemudian saya terdorong untuk mencoba menyelaraskan apa yang sudah banyak saya pelajari tersebut dalam perspektif Islam.
Apakah ada anjurannya untuk kita membuat goals dan berambisi duniawi dalam Islam? Saya belajar dari merenungi ayat pada QS. Al-Hasyr ayat 18,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
18. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Berdasarkan ayat di atas, Allah berfirman kepada kita yang beriman untuk memperhatikan apa – apa saja yang telah kita perbuat di dunia untuk hari esok. Adapun teknik – teknik goal setting tadi sebenarnya adalah sebagai pengingat bagi diri kita yang suka lupa terkait apa hal – hal penting yang perlu kita kerjakan. Dengan menggabungkan teknik goal settings dan semangat mengamalkan ayat di atas, semoga membuat kita semakin bergelora untuk mencapai impian yang kita tetapkan.
Memang ada efeknya? Kalau dari salah satu cerita teman saya, alhamdulillaah ada. Seperti misalkan kalau dulu dia ingin berinvestasi dalam bisnis ini dan itu untuk sekedar meningkatkan portfolio harta saja (misal: target keuntungan investasi sebesar Rp10 juta), maka dengan ayat di atas saya jadi semakin semangat meningkatkan portfolionya agar bisa segera naik haji dan membantu banyak anak yatim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Ikhtiar
Ikhtiar ini, kalau merujuk pada pendapat Ust Adi Hidayat, artinya adalah berusaha dengan bersungguh – sungguh. Seperti yang Allah sampaikan dalam QS. 53: 39,
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
39. dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
Maka saat kita sudah menentukan target di poin 2, langkah selanjutnya adalah mengukur seberapa besar usaha yang diperlukan dan berkomitmen secara sungguh – sungguh untuk mengerjakannya. Karena manusia itu hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Namun, selain berusaha dengan sungguh-sungguh atau bekerja keras, saya juga menemukan satu dalil yang membantu agar kita tidak hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas. Silakan disimak pada QS. Al-Jumuah: 10,
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
10. Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.
Walaupun konteks tafsir dalam ayat di atas lebih menekankan pada shalat Jumat, namun saya mencoba menerapkan ini untuk diri saya sebagai pengingat agar senantiasa mengutamakan shalat dan tetap mengingat Allah dalam setiap langkah ikhtiar agar menjadi orang – orang yang beruntung. Termasuk ini menjadi pengingat buat saya agar jangan sampai ikhtiar sekeras mungkin, namun malah mengorbankan shalat atau perihal – perihal lain yang lebih wajib.
4. Tawakkal
Adapun tawakkal artinya adalah berserah dan bersabar atas hasil yang kita terima dari 3 poin sebelumnya. Dalam buku – buku pengembangan diri modern, seperti yang ditulis oleh Adam Khoo dalam bukunya Master Your Mind, Design Your Destiny, bahwa ujung dari segala usaha ada 2: Berhasil alias sukses, atau belum berhasil alias belajar (ya, bukan gagal, tetapi belajar).
Kalau sukses, tentu senang bukan main. Tapi bagaimana kalau belum berhasil? Walaupun secara teori sepertinya bagus karena kita bisa melakukan reframing terhadap kegagalan kita sebagai sebuah pembelajaran, tapi come on, pasti banyak dari kita yang bersedih. Merasa bahwa semua sudah dilakukan, segala cara dan strategi sudah dicoba, namun kok belum berhasil juga.
Bagaimana kemudian panduan Islam dalam menyikapi 2 hasil ini? Di sinilah indahnya Islam itu.
Menyikapi saat kita berhasil. Mohammed Faris, pendiri dari Productivemuslim.com pernah mengatakan untuk berhati – hati kepada setiap orang yang berhasil atau mencapai goals nya. Loh, kenapa? Karena di situlah setan sedang berbisik untuk membanggakan hasil keringat dan jerih upaya kita sebagai kunci kesuksesan tersebut. Padahal, dalam QS. Al-Waqiah: 63-64, Allah mengajak kita berpikir. Jika kita berupaya keras untuk menanam sebuah bibit, lalu bibit itu berbuah manis dan lebat, maka pertanyaanya: Kitakah yang menumbukannya atau Allah yang menumbuhkannya menjadi besar dan berbuah? Tentu jawabannya adalah Allah SWT. Maka dari itu, ketika kita mendapatkan kesuksesan, hati – hati jangan sampai tergelincir bahwa, “yeah, 100% aku bisa mendapatkan yang aku mau dan itu semua karena aku.” Tidak, itu semua terjadi atas izin Allah. Lihat betapa banyak faktor di luar yang bisa kita kontrol yang mendukung ikhtiar kita, seperti kesehatan, misalnya atau kesempatan masih bisa bernapas? Jadi sebesar – besarnya usaha kita, maka tidak ada tandingannya dibandingkan dengan support Allah SWT dalam mendukung ikhtiar kita. Maka dari itu sebagai muslim dianjurkan untuk bersyukur, dan memberikan kredit keberhasilan bukan kepada aku, aku, dan aku, tetapi itu semua terjadi atas izin Allah SWT. Setelah itu, barulah kita beralih ke goals berikutnya dan memastikan tidak berhenti seperti yang ada di QS. Al-Insyirah:7,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
Menyikapi saat kita gagal. Di sini pula menurut saya indahnya Islam. Coba simak kutipan hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573, sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
MasyaAllaah… di saat diri kita sendiri atau orang – orang sekitar mungkin nyinyir kalau kita belum mencapai goals atau tujuan dunia kita, di situ Allah memberikan sebuah ganjaran yang luar biasa kalau kita bersabar. Musibah, dalam hal ini bisa berupa apa yang kita harapkan belum terwujud bahkan membuat kita gelisah, sebenarnya adalah salah satu cara Allah SWT dalam mengampuni dosa – dosa kita. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya nomor 4669,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَة
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seorang yang beriman sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan untuknya dan mengampuni dosa dosanya” [HR. Muslim, no. 4669]
Dengan ini, semoga cukup bagi kita (terutama pengingat untuk diri saya sendiri) agar senantiasa tegak dan tersenyum walaupun belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Setelah bersemangat kembali, ingat kutipan bagus dari filsuf Matshona Dhliwayo, “don’t strive to be superior to others; strive to be better than you were yesterday.”
Konsep Productive Muslim Model secara Ringkas
Berdasarkan kajian di atas, saya membuatkan sebuah skema yang lebih ringkas dan saya beri nama Productive Muslim Model. Secara ringkas, berikut ini adalah Productive Muslim Model yang bisa menjadi panduan untuk membuat hidup kita lebih produktif, tenang, dan beruntung, menurut perspektif Islam. Perbedaan dengan produktivitas sekuler, di mana derajat seseorang diukur hanya dengan sukses nya saja, dalam Islam, produktivitas itu diukur dari setiap helai nafas dan tetes keringat yang dipersembahkan untuk Rabb semesta alam, terlepas bagaimana hasil akhirnya.
Semoga model di atas dapat memberikan gambaran secara singkat untuk meningkatkan produktivitas dan semangat beramal kita semua sebagai seorang muslim. Jika sekiranya ada kekurangan, masukkan, atau feedback konstruktif silakan tinggalkan melalui kotak komentar di bawah.
Semoga bermanfaat untuk sahabat pembaca semuanya!
Salam,
Arry Rahmawan
