Arry Rahmawan Destyanto

Menciptakan Mood Menulis

Saya belajar banyak dari Mas Moh. Fauzil Adhim terkait dengan menciptakan mood menulis. Beliau pernah berkata, “Para pemalas menggunakan mood sebagai alasan untuk tidak bertindak. Para idealis mengendalikan mood untuk menghalau kemalasan.” Kutipan ini seolah menampar saya, sebagai seorang penulis yang kadang memang sering sekali menyalahkan mood atas kemalasan menulis.

“Aduh gw pengen nulis tapi ga mood, nanti aja deh!” Akhirnya tertunda dan terus tertunda karena menunggu mood yang tidak kunjung datang. Mungkin masalah seperti itu tidak hanya saya yang mengalami namun dialami oleh hampir semua penulis. Tetapi alhamdulillah masalah mood menulis ini sudah mulai dipecahkan sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah dengan membuat artikel setiap hari di blog ini. Saya mendapatkan sebuah insight bahwa mood itu sebenarnya bagaimana kita mengkondisikan psikologis kita. Jadi sebenarnya mood itu bukan ditunggu, melainkan diciptakan. Bagaimana sih sebenarnya cara menciptakan mood menulis itu?

Untuk menciptakan mood menulis, pertama kali yang harus diperhatikan adalah menyadari bahwa mood adalah sebuah pengkondisian secara sadar, bukan sebuah hal yang tidak bisa kita kendalikan. Banyak orang yang menganggap bahwa mood adalah sebuah situasi yang tidak terkendali sehingga mereka selalu menunggu kapan mood menjadi baik. Padahal, seperti yang dikatakan mas Fauzil, sebenarnya menyalahkan atas nama mood sama dengan mencoba membenarkan kemalasan. Para penulis produktif adalah mereka yang menyadari secara penuh bahwa mood menulis itu tergantung bagaimana mengkondisikan kondisi psikologis mereka.

Kedua, untuk menumbuhkan mood kita bisa rehat sejenak. Bisa jadi kita sedang bosan atau jenuh dengan menulis. Saya kadang pun demikian, kadang menjadi jenuh. Namun untuk mengatasi kejenuhan itu, saya beristirahat, lebih banyak membaca buku-buku atau browsing di internet. Lumayan bisa sambil menambah ide tulisan juga, hehe.

Ketiga, untuk menumbuhkan mood adalah kita memiliki alasan yang kuat kenapa kita harus menulis. Mampu menjawab pertanyaan why inilah kadang yang sulit dijawab oleh penulis pemula. Banyak dari mereka yang menulis untuk memperoleh ketenaran, popularitas, uang, atau fans. Itu sah-sah saja, tetapi saran saya agar semangat dan mood menulis itu lebih bertahan lama, jangan lupa merumuskan mission statement dalam setiap tulisan kita.

Intinya adalah, jika kita masih menyalahkan mood atau menunggu mood datang baru kemudian menulis, sebenarnya itu tidak berbeda dengan membenarkan kemalasan. Mood itu tercipta dari reaksi kita terhadap suatu keadaan. Karena tercipta dari reaksi, maka mood benar-benar tergantung dari diri kita 100%. Jadi, sudah saatnya kita tidak berkata, “Aduh maaf nih gw lagi ga mood” jika memang kita harus menelurkan karya. Ini juga berlaku dalam konteks lainnya. Mood itu diciptakan, bukan hanya ditunggu, apalagi pasrah terhadap mood. 

Jadi, seberapa besar pengaruh mood terhadap produktivitas menulis Anda? Silakan share pada kotak komentar di bawah.

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Exit mobile version