
Sewaktu kami semua diundang untuk maju ke depan menerima plakat, saya mengajak bersalaman Dimas. Salah satu juri lainnya, Wahyu Awaludin, menuntun Dimas untuk berjabat tangan dengan saya. Saya lemas, di hadapan saya adalah seorang Tuna Netra. Hati saya berdebar. Setahu saya, seorang Dimas adalah mahasiswa sastra Inggris UI, penulis aktif, yang sering dimunculkan di media massa tulisannya, memenangkan lomba, dan blogger andal. Padahal, ekspektasi saya seorang Dimas yang normal pun sudah membuat saya sangat hormat dengan capaiannya. Tapi ternyata, prestasi itu diraih dari seorang Tuna Netra. Bagaimana mungkin?
Pertemuan dengan Bang Dimas malam itu menorehkan suatu bekas yang mendalam bagi saya. Sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan, kehidupan terbaik terbentuk bukan karena kita memegang kartu paling bagus, namun karena berhasil memaikan dengan baik kartu yang kita punya.
Kadang saya merasa malu sendiri saat mengingat bahwa diri ini masih suka malas-malasan. Saya merasa malu menyia-nyiakan nikmat bisa melihat dan membaca dengan jelas. Saya merasa malu bahwa saya yang memiliki fisik lebih sempurna, kalah secara prestasi dari orang yang memiliki keterbatasan besar.
Begitu pula sebagai refleksi diri kita semua. Betapa sering kita mengeluhkan dan menyalahkan berbagai hal saat kita tidak bisa menorehkan prestasi besar. Entah katanya kita tidak bakat lah, entah karena otak orang lebih pinter lah, entah karena kita memang ga beruntung lah, dan lain sebagainya. Sebuah keadaan tidak akan pernah berubah, selama kita tidak memiliki keinginan kuat untuk merubahnya sendiri. Seorang Dimas, yang justru punya lebih banyak alasan untuk menyerah dalam berkarya, menunjukkan pada kita bahwa kehidupan terbentuk bukan karena kita diberikan keberuntungan lebih dibanding orang lain, tetapi bersyukur dan menciptakan keberuntungan itu melalui apa yang kita miliki.
Tetap bersyukur, selamat berkarya dan mengukir prestasi!
Berikut adalah cuplikan video saat Dimas diundang dalam talkshow Kick Andy,
Jika seorang Dimas saja bisa. Kita semua pasti jauh lebih bisa. Bukankah begitu? Bagaimana menurut Anda?
Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan